Balada



Sudah tepat dua minggu aku mendapat satu pekerjaan baru yang cukup jauh dari rumah, kamar indekos tentu menjadi pilihan favorit untuk tempat singgah selama aku di sini. Dan kebetulan aku mendapat tempat singgah yang cukup nyaman secara fasilitas dan harga. Ya, syukurnya aku diberi awal yang baik, setidaknya untuk dua minggu ini.

Satu minggu pertama dihabiskan dengan pekerjaan kantor yang belum terlalu padat, jadi aku masih punya waktu luang untuk sekadar berkenalan dengan daerah baru ini, bersama sepeda motor yang selalu menemani hariku semenjak duduk di bangku SMA, hari-hari awalku disibukkan dengan mencari warung makan yang cocok untuk lidah dan dompet, membeli peralatan kos, juga berkeliling untuk sekadar menghafal jalanan yang masih lumayan asing di kepala. Anggap saja satu minggu terlewati dengan baik, sangat baik bahkan.

Hari kerja di minggu kedua juga masih relatif sama dengan minggu pertama, hanya saja aku sudah mulai mendapat pekerjaan khusus, satu jobdesk yang memang diperuntukkan untukku, ya walau masih di permukaannya saja, karena terhitung masih di tahap belajar, sekaligus perkenalan dengan dunia baru, jadi belum berani langsung dilepas untuk mengerjakan satu tugas vital.

Namun di akhir minggu kedua, isi kepalaku mulai dibisingkan oleh pertanyaan-pertanyaan seperti apa aku akan hidup seperti ini sampai purna tugas nanti? Setiap hari? Siapkah aku menjalani rutinitas yang terkesan monoton ini?

Perlu digarisbawahi, aku sangat bersyukur mendapat pekerjaan ini. Lebih tepatnya aku sangat bersyukur di setiap jengkal takdir yang membawaku hingga saat ini, aku bersyukur bisa hidup dengan segala hal yang menghiasi. Ya walaupun kadang-kadang masih mengumpat juga, tapi yasudahlah. Karena celakanya, hanya satu hidup ini yang kita punya, maka untuk apa berlarut dalam penyesalan?

Jadi pikiran-pikiran tadi sebenarnya timbul karena aku mulai merasa ada sedikit kekosongan. Bangun di pagi hari, lalu berangkat bekerja, pulang kembali ke kos, membuka pintu dan hanya seonggok kasur tanpa dipan yang menyambut, sembari seolah-olah berkata "ayo, tiduri aku, sisi busaku yang ambles ke dalam karena terlalu sering kau tiduri sudah rindu akan kedatanganmu". Selalu begitu selama dua minggu ini.

Namun hidup memang penuh pro dan kontra kan, ya? Di satu sisi aku ingin merawat sepi, namun di sisi lain ternyata aku juga butuh sudut pandang lain yang memberi tamparan di kala terlena, mendebat tanpa perlu mengumpat, juga afeksi yang tak pandang gengsi.

Jadi,

Hei? Apa kabar?


Purbalingga, 22 Mei 2022

No comments:

Post a Comment