Kehilangan memang akan selalu menggoreskan luka, yang dapat menganga kapanpun juga. Dipicu oleh hal-hal remeh seperti kebiasaan lama, dapat dengan mudah memulai tumpahnya air mata. Kehilangan tak selalu tentang kematian. Hilang percaya, hilang hormat, juga hilang rasa merupakan bagian dari kehilangan itu sendiri.
Getir, menyaksikan apa yang kita damba tak sesuai dengan realita. Segala angan-angan di kepala musnah seketika, hancur tanpa sisa. Sayangnya, banyak orang yang cenderung memilih lari ketimbang menghadapi. Merasa tak siap dan takkan pernah siap kala rasa itu tiba. Padahal, seorang pelari pun punya garis finisnya masing-masing, ia tak semata-mata berlari tanpa henti.
Jika seorang pelari saja seperti itu adanya, bagaimana dengan kita yang memang tak pernah lari sebelumnya? Pilihannya adalah hadapi, atau mati. Tubuh punya batasnya, apabila ia tak sanggup memenuhi keinginanmu, ia akan berontak dan mengeluarkanmu dari jasad itu sembari seolah-olah berkata,
"Aku kesel, Cok."
Jangan memaksa, memang setiap manusia mempunyai ego yang harus dipuaskan, tapi kan yang menentukan porsi ego tersebut ya kita sendiri. Jadi pintar-pintarlah membagi porsi makan egomu yang menyusahkan itu.
Aku percaya mayoritas di dunia ini adalah orang egois, tapi dengan takarannya masing-masing. Momen remeh seperti,
"Kamu mau makan di mana?"
Lalu kamu jawab dengan kata "terserah" adalah bentuk paling kecil dari sebuah ego. Maksud hati ingin berdiskusi tentang tempat makan yang sama-sama ingin dituju, malah dibalas dengan kata yang seolah-olah berarti "males mikir." Bukankah akan lebih menyenangkan apabila dibalas dengan,
"Belum tau, kamu mau makan di mana memang?"
Terkesan sederhana, namun dari dua percakapan tersebut, kita bisa menilai mana percakapan yang lebih enak didengar oleh telinga. Tapi ya semua orang punya caranya masing-masing, aku tak bisa memaksa semua orang harus seperti apa yang ada di benakku. Karena sepertinya porsi egoku tak sebesar itu.
Jadi, pintar-pintarlah memilah itu semua. Sebab, hal yang paling menyenangkan di dunia ini adalah ketika melihat senyum orang-orang terdekat kita bisa terbit, karena kita berhasil menenggelamkan porsi ego kita yang terkadang kebesaran.
Purbalingga, 5 Juni 2022

No comments:
Post a Comment