Harapan



Saat di kerumunan, pernahkah kamu mencoba mendengarkan percakapan banyak orang dalam satu waktu sekaligus? Melelahkan bukan? Harus fokus ke satu dan yang lain, hingga akhirnya hanya menjadi distorsi telinga yang memuakkan.

Aku beranjak sejenak untuk sekadar mengistirahatkan telinga. Oh iya, saat ini aku sedang berada di salah satu tempat pelayanan publik. Sedang mengurus sesuatu yang harus segera diurus. Aku akhirnya melangkah keluar karena merasa tidak betah dengan suasana yang ada. Saat ingin menuju pintu keluar, aku melihat muka yang familiar sedang memasuki ruangan.

Seorang teman perempuan yang sudah lama tidak bertemu, kami tidak berkontak mata waktu itu, dan aku juga sedang malas basa-basi dengan orang yang tidak terlalu dekat. Aku keluar dari pintu kaca di gedung itu, mencari bangku kosong untuk dapat meletakkan pantat dan menyenderkan punggung. Tampak ada satu bangku kosong yang berada di sebelah bapak-bapak yang dilihat dari wajahnya berada di kisaran umur 50 tahunan. Aku menyela bapak-bapak tersebut untuk dapat duduk di sebelahnya.

"Permisi, Pak."

"Silakan, Mas."

Jadilah aku duduk di salah satu bangku kosong yang ada di luar gedung tersebut, bangku tersebut tidak jauh dari pintu masuk, jadi apabila ada nomor antrian yang dipanggil masih terdengar dari luar.

"Kerja apa kuliah, Mas?"

Pertanyaan andalan bapak-bapak yang sedang jenuh tertangkap oleh telingaku.

"Kerja, Pak."

"Di mana?"

"Di perusahaan belakang situ, Pak."

"Oh gitu."

Pembicaraan itu berhenti, bapaknya mungkin ingin ditanya balik, tapi aku sedang malas dan tidak ingin percakapan ini menjadi berkepanjangan. Tak lama setelah itu, teman perempuan tadi keluar dan menghampiri bangku sebelahku yang diduduki bapak-bapak tadi.

"Udah, Yah. Yuk."

"Cepet banget, Nduk?" Balas sang bapak.

Dari percakapan tersebut, dapat aku simpulkan bapak ini adalah ayah dari temanku tadi. Ya sudah, cepat pergi saja, batinku. Namun entah merasa familiar atau bagaimana, pandangan teman perempuanku tadi beralih dari ayahnya ke aku. Oh iya, aku baru ingat, nama temanku itu adalah Nira.

"Eh. Bara, ya?" Ucapnya

"Iya, Ra." Balasku

"Ya ampun, bisa pas gini. Lagi ngapain?"

"Ini lagi nunggu antrian"

"Oh, aku udah selesai, sih. Duluan, ya."

"Iya, hati-hati, Ra."

Percakapan berakhir.

"Mari, Mas." Percakapan tambahan dari sang bapak.

"Oh, iya, Pak. Hati-Hati."

Percakapan ini benar-benar berakhir. Tapi ngomong-ngomong, kapan terakhir kali aku bertemu Nira, ya? Sepertinya sudah lama sekali, saat kami masih berada di bangku SMA. Sudah banyak yang berlalu ternyata. Nira dan bapaknya bergegas pergi melangkah ke arah mobilnya. Masih bisa aku lihat punggungnya dari sini, sambil menggandeng tangan bapaknya, mereka berjalan menuju mobil yang sepertinya terparkir agak jauh.

Kalau di film-film, jika ia juga tertarik padamu, dia akan memutar kepalanya dan melihatmu sekali lagi, mungkin untuk yang terakhir kali. Aku hitung satu sampai lima. Satu, dua, tiga, empat.... Lima. Ya, benar sekali. Ia tidak membalikkan badannya sekadar untuk menatapku sekali lagi. Ah, film-film brengsek.

Aku lalu mengalihkan fokus pada layar handphone yang sedang aku pegang. Membuka twitter tentang apa-apa yang baru di berbagai belahan dunia saat ini. Yah, sekadar mencoba membunuh waktu. Biasanya, jika sudah berfokus ke handphone, aku jadi tak peduli perihal apa yang ada di sekitarku saat ini.

"Heh!" suara seorang perempuan tiba-tiba mengagetkanku.

"Hah? apa? iya? Gimana mbak?" Jawaban spontan yang keluar sembari aku yang masih bingung mencari sumber suara.

"Mbak, mbek, mbak, mbek. Sejak kapan aku nikah sama kakakmu?" Seloroh wanita yang baru saja mengagetkanku.

"Nira? Kok balik lagi?" Ah, skenario film memang susah ditebak.

"Kata ayahku, kamu kerja di perusahaan belakang, ya?" Ia membuka pembicaraan.

"Ha? Iya, kenapa emang?" Ucapku yang masih sedikit linglung.

"Ah, pas banget. Besok banget nih, hari pertamaku kerja di situ." Jawabnya dengan penuh semangat.

"Oh ya? Bagian apa?"

"Aku sih ngelamarnya animator, tapi liat besok lah, ya."

"Oh, gitu. Beda lantai kita berarti."

"Ya, gak harus satu lantai juga, kan?"

"Iya juga, ya. Btw, congrats, ya!"

"Hahaha makasih makasih, sampai ketemu besok, ya. Mohon bimbingannya, senior."

"Rese banget, ospek dulu besok, ya, junior."

"Bangke, okelah. Bilangin senior yang lain, jangan galak-galak ya. Nanti naksir."

"Pede abis."

"Antrian 20 mohon menuju ke loket 5." Suara wanita lain dari dalam gedung itu menyela pembicaraan kami.

"Eh, aku dipanggil. Duluan, ya. Hati-hati kamu baliknya." Ucapku mengakhiri pembicaraan.

"Okay."

Aku melangkah masuk menuju sumber suara, dengan meninggalkan Nira yang berjalan berlawanan ke arah mobilnya. Sekali lagi, semesta selalu punya cara untuk memberi kejutan. Namun lucunya, kejutan-kejutan itu selalu hadir bukan saat diharapkan. Melainkan saat kita sudah tak lagi berharap pada apa yang datang menghampiri, di penghujung hari nanti.

Purbalingga, 30 Mei 2023


No comments:

Post a Comment