Reminisensi



Baru saja mobil yang aku tumpangi melewati salah satu pusat perbelanjaan yang ada di Kota Surakarta, Matahari Singosaren. Melihat itu, tiba-tiba ingatanku terlempar ke belasan tahun yang lalu. Saat aku masih duduk di bangku SD kelas lima atau enam, agak lupa persisnya. Dulu minimal sebulan sekali aku pasti mengunjungi tempat ini, menemani Bapak yang tiap bulannya pasti belanja berbagai spare part ponsel untuk keperluan pekerjaannya.

Bapakku adalah tukang servis HP, pekerjaan yang menghidupi kami sekeluarga sampai aku bisa mencari ladang rezekiku sendiri. Dulu, aku hanya menjadi buntut dari Bapak, ikut beliau ke sana kemari mencari apa yang beliau butuhkan. Karena bukan itu target utamaku di tempat ini.

Biasanya, selesai mencari barang yang dibutuhkan, aku diberi "imbalan" berupa satu buah es krim cone dari Mc Donald's, yang harganya saat itu mungkin masih di kisaran lima atau enam ribu rupiah. Masih teringat jelas di otakku saat aku kecil berjalan riang menggandeng Bapak untuk pergi ke salah satu gerai yang ada di Singosaren yang khusus menyajikan es krim Mc Donald's.

"Mbak, pesan es krim yang cone satu, ya." Ucap Bapak

"Yang vanilla atau cokelat, Pak?" Sahut pelayan

"Cokelat, Mbak!" Kataku dengan penuh semangat.

Satu buah es krim vanilla yang dicelupkan ke dalam cokelat cair terhidang. Momen takjub pertamaku adalah memikirkan bagaimana caranya cokelat cair ini bisa tiba-tiba menjadi keras dalam waktu yang singkat?

"Iya, itu cokelatnya udah dingin kena angin." Jawab Bapak singkat.

Aku iya iya saja, toh jawaban Bapak juga masuk akal untuk aku yang masih duduk di sekolah dasar. Biasanya setelah itu kami mencari tempat kosong di dekat HIK (Hidangan Istimewa Kampung) atau lebih familiar dengan sebutan angkringan. Jika sudah begitu, aku akan duduk di sebelah tenda HIK tersebut, sembari menjilati es krim yang kupegang sedari tadi. Sedangkan Bapak lebih memilih memesan es teh atau kopi hitam saja. Setelah selesai, kami lalu pergi ke parkiran motor untuk menyusun barang yang baru saja dibeli tadi.

Yamaha Mio tahun 2007 adalah kendaraan yang kami pakai untuk mengangkut semua itu. Tata letak barang biasanya adalah, pijakan kaki depan diisi barang, lalu berurutan di belakangnya adalah Bapak, barang lagi, lalu aku. Jadilah aku memeluk barang-barang itu sekaligus bertugas memastikan tidak ada satu barangpun yang terjatuh. Formasi itu bertahan sekitar 45 menit sampai kami tiba di rumah. Lelah, tapi senang.

Perlahan ingatanku kembali terlempar ke masa sekarang. Masih terlihat olehku samar-samar gerai Mc Donald's yang penuh kenangan itu. Sekarang, mungkin aku bisa membeli es krim itu sendiri untuk kami berdua, atau berempat apabila semua keluarga kecil kami ikut. Namun rasanya tentu saja sudah berbeda, hal-hal seperti ini yang masih bisa membuatku berkata bahwa uang memang bukanlah segalanya, walau katanya segalanya pasti butuh uang, persetan.

Daripada menyesali nasib ihwal uang yang kehadirannya hanya transit sejenak di dompet, lebih baik mensyukuri hal-hal kecil yang akan membuat tiap langkahmu dalam menapaki hari senantiasa berasa cukup. Dan dari Bapak aku belajar untuk menyadari hal-hal kecil semacam itu.


Sepercik cerita dari gerai Mcd.

Surakarta, 1 Juli 2023

No comments:

Post a Comment