Sangkala



Sore itu sepulang kantor, Nira mengajakku untuk pergi mencari tempat makan di luar, supaya suara-suara dari dalam perut yang sudah mulai meronta tersumpal oleh butir-butir nasi yang terjun lewat kerongkongan. Seperti biasa, mencari makan adalah hal yang sederhana namun harus dibuat serumit mungkin.

"Kamu biasanya makan di mana, Bar?" Tanya Nira.

"Biasanya sih di deket kosan. Mau?" Jawabku

"Boleh aja sih."

"Yaudah mending bungkus makan di situ terus makan di kosan."

"Bara, Bara. Udah berapa cewe yang kamu pakein trik kaya gini?"

"Trik apa?" Tanyaku bingung

"Ngajak makan cewe di kosan, terus lanjut nonton film yang kamu udah pernah nonton sebenernya, terus ya kamu tau apa selanjutnya." Tegas Nira tanpa bisa kusela.

"Ya ampun, yaudah yaudah, kamu mau ke mana bebas kalau gamau. Pake bikin skenario sendiri lagi, otakmu Ra yang sebenernya kotor."

"Hahaha bercanda Baraa, lagian kalo ada kesempatan emang kamu gamau?" Celoteh Nira.

"Ya mau sih, hehe." Jawabku asal.

"Setan!" Umpat Nira.

Akhirnya kami menepi di salah satu warung tenda pecel lele yang terlihat menjanjikan, lidahku sepertinya sedang rindu akan gurihnya nasi uduk yang berpadu dengan ayam goreng dan sambal yang cara membuatnya kurang higienis.

Sembari mengisi waktu kosong menunggu makanan datang, kami banyak bercerita tentang masa lalu. Nira adalah teman SMA yang tiba-tiba pindah karena orang tuanya ditugaskan ke luar kota, dia pindah saat kenaikan kelas dua menuju kelas tiga. Setelah itu, aku sama sekali tidak pernah bertemu dengannya lagi, sampai saat kemarin kami bertemu kembali di suatu tempat pelayanan publik, sedang mengurus sesuatu yang sama.

"Bar, kamu itu ga bisa marah ya?" Tanya Nira tiba-tiba.

"Ga bisa marah gimana maksudnya? Ya bisa lah." Jawabku

"Iya, soalnya dari dulu aku ga pernah liat kamu marah."

"Bisa nih, sekarang aku marah."

"Yee, serius."

"Hahaha. Bisa, Ra. Cuma emang ga keliatan aja."

"Dipendem?"

"Semacam itu."

"Kenapa?"

"Pertama, karena aku kalo marah jelek. Kedua, karena aku takut orang di sekitarku yang tadinya nyaman-nyaman aja jadi keganggu atau malah ikut marah, padahal mereka ga seharusnya terlibat juga."

"Kalo jelek mah iya, cuma bukannya ga enak ya emosi kalo ga diluapin?"

"Diluapin, tapi ga secara langsung. Biasanya tiba-tiba aku ngilang, ke mana gitu sendiri, nanti kaya emosinya perlahan-lahan ikut ilang."

"Bisa gitu ya? Aku kayanya ga bisa deh. Kalo marah sama orang ya langsung aja semprot di depan mukanya."

"Iya tau, aku inget banget pas kelas dua awal, kamu marah sama Tari gara-gara dia nuduh kamu ngambil uang kas kelas. Mana marahnya belepotan, kan jadi keliatan tolol." Ucapku sambil nyengir.

"Bar, ah. Jangan diinget-inget." Kata Nira sembari membenamkan wajahnya di kedua tangannya."

Tak lama setelah itu, makanan datang di saat yang tepat. Kenapa kubilang saat yang tepat? Karena kadang aku kesal, kalau ada pembicaraan yang belum selesai, lalu dipotong oleh mamang-mamang yang mengantarkan makanan. Mau dimarahin, dia tidak tahu apa-apa. Tapi dia udah mengganggu mood cerita, serba salah.

Namun terlepas dari semua itu, nampaknya ada getar yang kembali mekar. Aku tak tahu itu apa, yang jelas tiba-tiba saja aku ingin menjadi Raja Julius di serial Black Clover, pengguna sihir waktu, sehingga tak akan ada lagi anak perempuan yang takut akan jam malam, karena saat suasana sedang nyaman-nyamannya, waktu seolah berjalan begitu cepatnya.

Purbalingga, 26 Agustus 2023

No comments:

Post a Comment