Sambekala


Beberapa hari ini aku selalu pulang kantor larut malam, entah mengapa waktu terasa begitu cepat saat aku sedang terbenam dalam tumpukan berkas yang menunggu untuk diselesaikan. Oh iya, salam kenal. Namaku Nira, perempuan yang hidupnya penuh dengan sesuatu yang biasa-biasa saja. Tinggi badan yang biasa saja, wajah yang biasa saja, bahkan ukuran dada juga biasa saja, cenderung minimalis. Hari ini, aku berniat mengebut pekerjaan supaya bisa selesai sebelum malam. Aku ingin sejenak melepas penat dengan berkeliling kota menggunakan motor matik yang lagi-lagi biasa-biasa saja.

Sebentar lagi jam istirahat, kebetulan aku membawa bekal yang disiapkan mama karena tahu anaknya ini malas sekali mencari makan saat siang sedang terik-teriknya, juga mencegah pemborosan karena kalau sudah begitu pasti aku cenderung memesan makanan secara online. Tapi siang ini, aku masih terlalu asik menyelam pada tumpukan berkas yang menunggu untuk diselesaikan ini.

"Buset serius amat, makan dulu lah ayo." Ucap Mey, teman satu ruanganku.

"Duluan-duluan, tanggung pengen balik cepet nanti." Balasku

"Weiss, tumben. Mau kencan ya?"

"Kencan-kencan, ada cowok yang naksir aja syukur."

"Ini nih, makanya pake kaca mata, biar keliatan jelas siapa aja yang udah deketin, eh ga digubris."

"Cerewet ah, dah makan sono."

"Yaudah, aku duluan ya, bos inosen." Gurau Mey sambil kabur.

"Resee!" Balasku terkekeh.

Siang itu berjalan cepat, sampai tiba akhirnya berkas terakhir sudah selesai kukerjakan. "Pas jam empat." Batinku. Langsunglah aku berkemas dan bergegas pulang.

"Aku duluan ya, Meyong." Julukan sayangku ke Mey.

"Tega yaa." Sahutnya

"Bodo amat!" Selorohku sambil berlalu.

Aku menyiapkan headset bluetooth dan lagu random di spotify untuk didengarkan di sepanjang jalan nanti. Aku menuju motorku, mengenakan helm, men-starter motor, lalu gas!

Lagu pertama adalah lagu andalanku untuk mengawali waktu berkendara, lagu Little Honda milik The Beach Boys menggetarkan semangatku untuk menyelip-nyelip di antara kendaraan yang lalu lalang tak ada habisnya. Sore kali ini sepertinya sedang mendukungku, langit cerah menyambut diiringi burung-burung yang berkoloni untuk pulang ke sarangnya, indah sekali.

Saat sedang sibuk mengagumi suasana sore ini, tiba-tiba lagu pada headsetku beralih ke lagu milik The Beatles berjudul I Will. Kenapa ya, sebuah lagu bisa memercikkan kembali butir-butir kenangan yang bersatu-padu meruntuhkan hati yang sedang tak mau sendu. Bahwa dulu, pernah ada seseorang yang memperkenalkan lagu ini. Bahwa dulu, pernah ada seseorang yang kerap kali menyanyikan lagu ini, dan bahkan memori-memori yang ada pada lagu ini masih terekam jelas di ujung sanubari. Bahwa sesuai dengan judul lagu ini, pada akhirnya aku mau menerima, bahwa dirimu tak bisa memelukku lagi.

Purbalingga, 4 September 2023

No comments:

Post a Comment