Tanpa aba-aba dan tanpa apa-apa, dirimu tiba-tiba memelukku erat. Karena sangat tiba-tiba, hening sejenak tercipta. Otakku masih mencerna ihwal apa yang sedang terjadi.
"Cape." katamu.
Refleks pertama yang dapat diperintahkan otakku adalah melakukan hal yang serupa, sembari sedikit menepuk dan mengelus punggungnya yang sarat akan tanggung jawab yang kian hari tampak kian berat.
"Keluarkan saja." Kataku.
Tak lama, aku merasa baju yang sedang kugunakan basah. Diiringi oleh badan yang mulai gemetar sesenggukan. Tanganku masih di posisi yang sama. Jika orang muntah dipijat di bagian tengkuk agar semua bisa keluar tuntas, maka menurutku punggung yang ditepuk dan dielus pelan adalah sarana untuk menumpahkan getir yang telah lama disimpan dalam-dalam.
Sekitar sepuluh menit berlalu, getar yang ditimbulkan oleh senggukan tadi mulai padam, menyisakan baju yang sedikit basah karena menahan bulir-bulir air mata. Aku usap sisa air yang ada di wajahnya yang kini mulai melahirkan seutas senyuman, mata kami berpandangan. Komunikasi sunyi tanpa perlu melibatkan mulut untuk melontarkan kata.
Syukurlah, batinku. Mungkin aku belum bisa terlalu memahami apa yang menerpamu sedemikian hebat sampai hal ini terjadi, kau pun belum mau membahas ini lebih lanjut. Ya sudah, setidaknya endapan yang ada di dalam situ bisa keluar dulu, aku tak akan memaksamu untuk bilang ini itu. Senyamanmu, semaumu, sesiapmu.
Mengingat kita adalah dua manusia yang dibentangkan oleh jarak, ditemukan oleh pilu, dan dirapal oleh doa. Agar senantiasa kuat dan dikuatkan, melewati hari-hari yang kian hari kian ajaib untuk dijalani. Kuat-kuat, ya. Selalu.
Semarang, 26 November 2023

No comments:
Post a Comment