Jangan sengaja lari agar dicari, sungguh itu menyesakkan. Dulu waktu kecil, kita mungkin sering sekali main petak umpet ya, tapi mengapa sekarang tidak? Ya simple-nya mungkin karena hadirnya gadget. Berarti gadget buruk dong? Tidak sepenuhnya, mungkin kita bisa bahas itu di lain waktu. Kali ini, aku ingin coba menelaah permainan tradisional bernama petak umpet terlebih dahulu.
Mengapa dulu petak umpet sangat menyenangkan? Ya Karena kita para "player", asekk player. Sama-sama setuju bahwa kita dibagi menjadi dua role, yaitu penyembunyi dan pencari. Ada satu kata penting di situ, yaitu setuju. Artinya kedua pihak sama-sama tahu tugas masing-masing, dan sama-sama menyetujuinya.
Namun sengaja lari agar dicari nampaknya tidak seperti petak umpet yang menyenangkan, karena tidak ada kata setuju antara satu pihak dan pihak lainnya. Alhasil hanya satu pihak saja yang nampaknya terhibur, pihak lainnya seperti lelah atau bingung menghadapi apa yang ada di depannya saat ini.
Energinya bisa terkuras habis menyelesaikan riddle yang terkadang tidak menyediakan clue untuk menyelesaikan permainan. Dan dikarenakan satu pihak tidak mengerti bahwa ia sedang dalam sebuah permainan, sudah-lah dia tidak menikmati, dia pun bisa-bisa kehabisan energi sendiri.
Kita sama-sama sepakat bahwa ada kegiatan yang menghabiskan energi namun tetap menyenangkan, hasilnya ya lelahnya terbayarkan. Nah, kasus ini sudah lelah, tidak menyenangkan pula. Double kill.
Maka dari itu lebih baik sama-sama sepakat di awal terlebih dahulu, karena kalau dipikir-pikir, kalau di masa kecil saja kita bisa bersepakat dalam permainan agar sama-sama senang, masa di dewasa ini, di era di mana energi kita sudah diserap oleh pekerjaan ataupun hal lain, masih mau membuang energi ke tempat yang dinilai kurang menyenangkan. Sangat disayangkan bukan?
Sudahlah, mari bersenang-senang saja. Bukankah lebih menyenangkan menertawakan getir berdua daripada menelan pil pahit sendirian?
Sebuah tulisan menunggu sahur,
Purbalingga, 20 Maret 2024

No comments:
Post a Comment