Stasiun Terakhir



Karis tengah duduk di depan laptopnya, di sebuah kafe yang terletak di pinggir kota tempat ia tinggal, berteman es kopi susu gula aren yang baru saja datang diantar pelayan. Bersama dengan es kopi tersebut, pelayan tadi juga membawa asbak kosong berwarna hitam, lalu meletakkannya di samping laptop yang di bagian belakang layarnya penuh dengan tempelan stiker band lokal.

Karis yang merupakan pekerja harian lepas di sebuah majalah olahraga, sedang menatap sudut kanan atas kepalanya, berharap ada tumpahan huruf yang dengan sukarela membentuk kalimat untuk dia tulis di salah satu rubrik majalahnya.

Es kopi yang tadi dipesan tak dijamahnya, ia fokus mencari sesuatu yang ada di langit-langit kafe tersebut. Makin lama, bukan kata-kata yang ia dapat, melainkan wajah seorang perempuan yang sedang ingin ia lupakan. Perempuan yang kini sudah hidup bersama laki-laki yang menjadi pilihannya, walau sepertinya terpaksa. Ucap Karis dalam hati, mencoba menghibur hati mungilnya tersebut. Di lain sisi, terdengar samar suara Noel Gallagher menyanyikan lagu Half The World Away.

🎶 I would like to leave this city

This old town don't smell too pretty

And I can feel the warnin' signs

Runnin' around my mind.🎶

Entah kenapa, seolah si pelayan yang mengatur musik di kafe ini seperti paham terhadap apa yang ada di pikiran Karis saat ini.

"Taik-lah." Umpat Karis lirih.

Es yang ada di kopi susu tadi mulai mencair, mungkin sekitar 10 menit ia dibiarkan perawan karena tak ada satupun yang menjamah embun di tepi gelasnya. Karis sadar, ia lalu mengaduk dan meminum es kopi tersebut satu teguk. Namun ia baru sadar ternyata ada asbak juga yang menyertai es kopi ini, padahal dia tidak merokok, atau lebih tepatnya sudah tidak merokok lagi semenjak dia bersama perempuan yang tiba-tiba muncul di benaknya barusan.

"Ris, maaf tapi apa kamu bisa agak jauhan dikit kalo lagi ngerokok?" Ucapan Nira waktu pertama kali bertemu Karis tiba-tiba muncul begitu saja.

Karis tidak suka hidupnya diatur, namun demi Nira, ia akhirnya mengamini apa yang Nira perintahkan. Entah kenapa, Karis rela begitu saja diperintah oleh perempuan yang baru saja ditemuinya. Pertama kali mereka bertemu adalah saat mereka sedang mempersiapkan Ospek jurusan di sebuah kampus. Ternyata, kota asal mereka bersebelahan, jadi serasa punya latar belakang yang relatif sama.

Waktupun berlalu, mereka kian dekat dan menjadi pasangan. Banyak hal yang mereka lalui di perkuliahan, suka dan duka, tangis dan tawa. Nira lulus lebih cepat satu semester, karena Karis harus menyelesaikan beberapa mata kuliah yang mengulang karena tidak lulus di semester sebelumnya.

Nira langsung mendapat pekerjaan beberapa bulan setelah ia lulus, Long Distance Relationship (LDR) harus mereka tempuh, karena Nira mendapat pekerjaan di kota yang jauh dari tempat tinggal mereka.

Nira yang kian sibuk berbanding terbalik dengan Karis yang terlalu banyak waktu luang. Alhasil, ego Karis seperti sedikit terusik karena merasa Nira sudah berada di atasnya saat ini. Terdapat jurang pemisah yang agak dalam antara wanita karir dengan mahasiswa semester akhir. Merasa ia harus memberi makan ego yang kelaparan, Karis memutuskan untuk mencari selingan Nira secara diam-diam. Keputusan yang akan ia sesali, mungkin seumur hidupnya.

Sekarang mungkin sudah lima tahun semenjak Karis lulus kuliah, namun tiba-tiba, otaknya kini bagai roll film yang sedang memutar masa-masa kuliahnya, masa di mana hampir setiap hari pasti ada Nira di sisinya, kadang-kadang di belakangnya deng, karena Karis cuma punya sepeda motor kala itu, dan Nira adalah pelanggan setia ojek Karis, tentu saja dengan suspensi yang agak seperti rodeo kalau Nira sedang dibonceng.

Namun mereka menikmatinya, momen-momen sederhana yang terekam jelas di memori Karis. Padahal bisa dibilang, Karis cukup pelupa, namun untuk urusan sederhana seperti ini, entah kenapa otaknya giat menempel kepingan-kepingan polaroid di dalamnya. Mungkin karena vitamin Omega-3 yang dicekokin Ibu Karis saat dulu masih kecil anti fisika, alhasil momen-momen kecil ini yang malah terekam, dan sulit dilupa.

Kini, sudah datang waktunya, di mana telinga Karis sudah tidak lagi menjadi dermaga bagi kapal-kapal yang berisi cerita-cerita Nira. Ibarat lokomotif kereta, Nira dulu berangkat dari stasiun awal tempat Karis berada, namun kini, perjalanan membawanya sampai di stasiun akhir, tanpa pernah membawanya kembali lagi.

Purbalingga, 25 Juni 2024

No comments:

Post a Comment