Kereta Api


Dari dulu, aku memiliki obsesi tersendiri terhadap kereta api. Salah satu mode transportasi yang menurutku paling nyaman untuk dinaiki.

Tidur di kereta saat hari sedang cerah nampaknya tidak ada di kamusku, jika mata menuntut untuk dipejamkan, aku akan memaksa agar ia tetap terjaga dengan berbagai macam cara, minum kopi dengan kafein yang tinggi adalah salah satunya.

Kereta, khususnya jalur selatan mempunyai daya magis tersendiri. Contohnya hari ini, sembari melamun menyaksikan hamparan sawah hijau yang terbentang, tiba-tiba tulisan ini tercipta begitu saja. Otak seperti mendapat dopamin lebih untuk menuangkan suasana dalam wujud kata-kata.

Selain kereta, stasiun juga menjadi tempat dengan suasana yang tidak bisa terdefinisikan. Dulu, bagiku stasiun adalah tempat yang penuh dengan kegetiran, karena di sana, aku selalu dituntut melepasmu untuk pergi jauh. Ditambah lagi ada satu film karya Makoto Shinkai berjudul 5 Centimeter per Second, yang membuat dada menjadi padat seketika, seperti ada ruang baru yang tercipta di sana, menambah beban yang seharusnya ringan-ringan saja.

Tapi seperti kata Perunggu, kadang-kadang perih memang harus dirayakan. Daripada sibuk meratapi, kini sepertinya aku lebih memilih menertawai. Karena bagaimanapun juga, hidup harus terus berjalan, ada atau tanpa getir yang menjelma menjadi batu kerikil yang bisa mencelakai kapanpun juga, seperti laju kereta yang tak pernah berhenti agar bisa datang atau berangkat tepat pada waktunya, tak peduli dingin dan sepinya malam, maupun terik dan padatnya siang.

Agar ia bisa melukis senyum dari orang-orang yang akhirnya bisa kembali ke pelukan sang terkasih, walaupun di lain sisi ada tangis haru yang melepas kepergian orang-orang yang akan menuliskan kisah. Semua bersatu padu dalam roda kereta yang menderu, menggilas rel yang selalu siap menyediakan jalan untuk mencapai semua itu. Pada akhirnya, semoga kita semua diberkahi, selalu.

Tegal, 28 Juli 2024

No comments:

Post a Comment