Lega

Pernahkah dirimu merasa tidak ada tempat untuk membagi kebahagiaan yang sedang ingin sekali kamu curahkan? Seperti membawa sekotak cokelat pada orang yang tidak menggilai cokelat sepertimu. Energi besar yang kamu keluarkan untuk menggambarkan perasaanmu saat itu sirna karena tidak ada yang menyambutnya dengan antusiasme yang sama.

🎶Telat kusadar hidup bukanlah perihal mengambil yang kau tebar.🎶

Lirik lagu berjudul Membasuh dari Hindia seperti menonjok pelipis kiriku.

Jangan terlalu berharap pada manusia memang terkadang ada benarnya, namun sebagai makhluk sosial, sepertinya kita memang dituntut untuk selalu bersinggungan dengan orang lain, walaupun terkadang, sekadar menyapa saja malasnya minta ampun. Namun sepertinya manusia memang didesain membutuhkan orang lain dalam tiap jengkal hidupnya, tentu saja dengan takaran dan komposisi masing-masing.

Kita bisa meledak karena sepercik obrolan yang saling dilontarkan dengan antusiasme yang sama, waktu bagai hiasan dinding yang tak pernah dihiraukan. Jarumnya larut dalam secangkir teh hijau hangat yang terkenal menenangkan. Berbanding terbalik dengan ledakan gairah yang datang menghias malam, sembari berharap matahari tidak terlalu cepat datang.

Satu seruputan berbalas seruputan lain, menyela obrolan demi obrolan yang menghangatkan kursi tempat mereka duduk saat ini. Tidak adanya senderan kursi menjadi salah satu masalah di usia mereka kini, memang kursi di tempat ini sepertinya didesain untuk membuat pengunjungnya tidak betah lama-lama duduk di kursi ini. Namun persetan dengan pinggang, mata yang saling beradu, juga tawa yang melegakan adalah penawarnya. Meluruhkan segala hal yang hinggap di pundak keduanya. Tentang keluarga, tentang problema lama, tentang hidup di masa mendatang. Merayakan nestapa tak pernah semeriah ini, abadilah dalam ingatan, hiduplah dengan harapan, jalanilah dengan langkah pelan, dan pada akhirnya, selamat merayakan malam.

Di dalam kereta menuju Purwokerto,

8 Agustus 2024.

No comments:

Post a Comment