Aku pernah suka dengan seorang perempuan, ia adalah perempuan yang memenuhi semua checklist yang telah kubuat untuk menjadi standar dalam memilih pasangan hidup. Walaupun mungkin terlalu dini untuk mendekati, namun apa salahnya merawat seseorang yang kita sayangi walaupun tanpa ada timbal balik yang berarti?
Ada suatu masa, saat semesta sedang sangat indah dengan senjanya, ia dengan lepas bercerita tentang banyak hal saat kami berdua sama-sama menatap matahari yang sedang mencoba kembali ke peraduan, berteman lembayung di ufuk barat kampung halaman. Saat itu, aku sangat berharap waktu bisa dibekukan, aku tak ingin suasana seperti ini berakhir, obrolan-obrolan di tepi telaga saat sore tiba selalu bisa membuat hari yang penat menjadi istimewa.
Selalu senang melihatnya tertawa lepas, selepas kawanan burung yang sedang terbang di tiap sore untuk dapat kembali ke dekapan keluarga mereka. Terkadang, hening tercipta saat aku termenung melihat bening dua bola matanya, lalu dia memergoki-ku dalam diamnya karena caraku memandangnya.
Oh iya, saat seorang perempuan bercerita, jangan disela, tunggu sampai ia berhenti berbicara, karena apa? Terkadang wanita hanya butuh pendengar yang tulus mendengarkan apa yang ingin ia utarakan.
Tak terasa langit telah semakin gelap dan suara azan sayup terdengar. Kami memutuskan untuk pulang, ia menyuruhku untuk segera beribadah, sesuatu yang takkan bisa kami lakukan bersama, ah ternyata ada sebuah checklist yang luput tercentang. Iya, keyakinan yang sama.
Tulisan di balik Jendela,
Rangga Heryan Kusuma
Tulisan di balik Jendela,
Rangga Heryan Kusuma

Swangarrrr
ReplyDelete:v
Delete