Rapuh


Malam itu aku terpukul, sangat malu, aku yang sedari dulu bersama bahkan tidak mengetahui perasaan sahabat-ku sendiri yang memendam rasa kecewa dalam waktu yang cukup lama.

Walaupun memang itu masalah pribadi dia, namun apakah lalu itu tidak menjadi urusanku juga? Aku tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi seseorang, namun aku terbayang betapa rapuhnya dia saat tidak ada tempat baginya untuk bercerita, menumpahkan segala masalah yang ada pada orang yang dianggapnya pas, betapa dia bertahun-tahun sedang berada di titik paling rendahnya dalam hidup dan tidak ada yang mengetahui, betapa dia terpuruk setiap kali ingat kejadian-kejadian yang tak diharapkannya kini terjadi juga. 

Maaf, selama ini aku kurang memahami emosimu yang labil, gimik-gimik aneh yang ternyata adalah simbol bahwa kau sedang tidak baik-baik saja. 

Kini, aku hanya bisa menjanjikan bahwa kau tidak akan pernah sendiri, kau punya banyak teman yang tidak akan meninggalkanmu di saat kau merasa tertikam oleh peristiwa masa lampau, kami semua ada untukmu kawan, kau bisa menghadapi itu semua, kau bukan orang lemah, mungkin hanya pembuktian darimu yang bisa membuat perasaan orang yang sangat kau cintai itu luluh, semoga saja.



Rangga Heryan Kusuma
Catatan di sebuah bilik kecil,
Minggu, 1 Juli 2018

No comments:

Post a Comment