Ada rasa senang dan susah saat mendengar keputusannya untuk ikut. Senang karena ada suatu yang tak biasa, susah karena terlalu memikirkan kemungkinan terburuk yang selalu membayangi.
Namun perasaan susah itu telah berusaha kubuang sejauh mungkin, berusaha berpikir jernih sembari menyiapkan apa-apa yang sekiranya akan diperlukan nantinya. Setelah dirasa cukup, kami ber-delapan dengan laki-laki lima orang dan perempuan tiga orang berangkat menuju basecamp sebuah gunung, tempat terakhir kami dapat mengendarai motor untuk kemudian di parkir dan perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Saat sudah sampai di basecamp, kami lalu bergegas packing ulang, tiga perempuan membawa tas dengan beban ter-ringan, sementara tas berat dibawa oleh kami para lelaki.
Aku memimpin perjalanan awal, dan tak kusangka ia mampu dengan gesit mengikuti langkah kakiku yang sengaja kubuat agak cepat untuk sekalian adaptasi lingkungan. Melihatnya tak mempunyai masalah fisik, aku pun berpindah ke belakang untuk mem-backing rombongan dengan fisik yang kurang, sementara di paling depan digantikan oleh temanku yang sudah berpengalaman, walau masih sedikit. Kami berjalan diselingi canda tawa juga sesekali istirahat untuk mengambil napas yang dibutuhkan oleh paru-paru yang mulai sesak di hantam medan.
Semakin lama dua temanku terdepan tadi semakin akrab, walau belum pernah kenal sebelumnya. Namun dari gaya bahasa Bow, teman lelaki yang menggantikanku di depan tadi, ia mengisyaratkan nada kagum atas paras temanku perempuan, Rin. walau terbilang belum frontal, karena baru kenal. Bagaimana aku tahu Bow tertarik atas Rin? Pertama, aku akui Rin adalah wanita yang memiliki pesona, walau pribadinya sederhana. Kedua, ya tahu lah, kami para lelaki sudah hapal bagaimana tingkah laku sebangsa kami untuk melakukan penetrasi dengan harapan bisa mendapat tempat di hati seorang perempuan.
Aku sih tidak masalah, wong ya sama-sama lajang. Namun saat terkadang aku hanya duduk berdua dengan Rin, ada nada-nada sumbang yang hadir dari mulut Bow yang kuduga sudah mulai suka dengan Rin. Di sini aku ingin bersuara, karena Bow sudah hampir kelewatan, baru juga kenal, sudah berani mengaturku yang sudah kenal lebih lama dari dia. Namun api yang ada di dalam diriku masih bisa padam karena kata-kata Rin yang selalu menyejukkan.
"Sudah, Ra. Lanjut yuk" katanya
Aku membalas dengan anggukan.
Rin, kau mengajariku berambisi secara positif. Bukan sekadar berambisi, lalu menanggalkan yang lain, segala cara dihalalkan, hingga nurani dirusakkan.
No comments:
Post a Comment