Rinai hujan menghiasi perjalanan kami pulang, jalanan di pegunungan ini hampir tak terlihat, tertutup kabut yang semakin menebal seiring dengan hari yang kian gelap, kurasakan ada sepasang tangan yang masuk di saku samping jaket jeans hitam yang tengah kugunakan, lalu perlahan memeluk pinggangku erat.
"Dingin, Ann?" Ucapku membuka pembicaraan
"Hehe, iyaa gapapa ya?"
"Iya santai saja"
Hening sejenak timbul saat aku ingin menyatakan sebuah perasaan. Dengan nyali yang tersisa, aku memutuskan untuk mencari sebuah kejelasan.
"Ann, akhir-akhir ini aku merasa kamu berbeda."
"Berbeda bagaimana?"
"Entahlah"
"Lhoh, kok aneh"
"Jika yang kuduga benar, apa kau bersedia?"
"Bersedia untuk apa sih?"
"Untuk selalu bersamaku?"
Hening sejenak, kurasa Anna sudah mulai menangkap kemana arah pembicaraan ini, dibarengi dengan adanya kepala yang perlahan ditempelkan ke bahuku, kudengar sebuah bisikan, bisikan yang sedikit disertai nada-nada yang gemetar.
"Bukan aku, Ra." Katanya memecah keheningan
"Hah?"
"Lia"
Aku sedikit tersentak, dibarengi dengan muka Anna yang ditenggelamkan di punggungku, juga tangannya yang semakin erat memeluk.
"Maafkan aku, Ann"
Kurasakan punggung yang mulai basah, entah karena rinai yang semakin deras, atau air mata yang tumpah ruah. Sudah tak bisa lagi dibedakan, aku bingung harus berbuat apa, harus tetap diam seperti ini atau mencoba mencari celah untuk membicarakan semuanya secara baik-baik dengan Anna. Maaf, Ann.
Ketep, 18 September 2018

No comments:
Post a Comment