Berawal dari klausul daerah yang berbeda-beda, beberapa dari kami berkumpul dan bertatap muka langsung secara perdana adalah di kos salah satu teman kami bernama Ega, karena ia yang mau bersukarela mengkoordinir sebuah tugas awal saat masa orientasi atau kita lebih mengenal dengan sebutan OSPEK. Berawal dari OSPEK pula, kami ditempa untuk menyelesaikan sebuah tugas secara bersama-sama, tidur jam 2 bangun jam 5 secara 3 hari berturut-turut, dengan narasi tersebut dapat dibayangkan bagaimana tugas OSPEK menyiksa kami.
Namun dari sana, mulai muncul rasa saling bergantung, senasib sepenanggungan, susah-senang dihadapi bersama. Singkat cerita, OSPEK telah berakhir, membuat kami dapat bernafas dengan bebas, kami resmi menjadi mahasiswa, ada sedikit rasa bangga di sana walaupun setelah memasuki dunia perkuliahan itu sendiri ternyata biasa-biasa saja.
Saat OSPEK telah selesai, dimana kami berpikir ini adalah akhir dari semua siksaan, ternyata masih ada siksaan part 2 bernama kaderisasi. Kaderisasi ini dilakukan satu semester penuh, dimana tiap minggunya kami dikumpulkan dan diberi tugas untuk kemudian minggu depannya lagi disalahkan atas tugas yang kurang sempurna, dan pasti tidak sempurna. Lagi-lagi kekompakan kami diuji, rasa individualis harus dibuang sejauh mungkin paling tidak selama satu semester ini, dan itu cukup berhasil, kami menerima tugas-tugas tambahan dari kaderisasi ini bersama-sama. Meskipun selalu terlontar umpatan saat kita menerima tugas yang memang menyusahkan, namun kami berhasil melewatinya bersama, 6 bulan penuh makian dari senior cukup membuat kami bersatu-padu.
Di sela-sela itu, aku sempat berpikir, apa memang harus seperti ini untuk melatih kekompakan dan mental seseorang? Yang benar saja. Walau memang setelah saat itu aku merasakan dengan nyata kekompakan yang ada di masing-masing dari kami, namun dalam segi mental aku rasa belum berbicara banyak, hanya segelintir saja yang memang benar-benar 'jadi', karena memang tiap orang memiliki kebutuhan mental yang berbeda-beda. Tak apa juga, sesuatu memang tak ada yang sempurna, mari ambil sisi positifnya saja.
Kaderisasi ditutup dengan penuh drama, dikumpulkan di sebuah tempat hanya untuk dihujat. Kesal sebenarnya, namun di akhir acara tersebut, ada haru saat mengingat perjuangan dan kesabaran kami yang memang tak punya keluarga di perantauan, kini secara resmi diangkat sebagai keluarga baru di sebuah jurusan minor yang untuk bertahan saja harus tertatih-tatih dahulu.
23 November 2017
The Fastund
D3 Pertanahan Universitas Diponegoro.




Sadis
ReplyDelete