Jarak

Jarak. Satu kata yang mungkin menjadi momok bagi beberapa pasangan yang sedang dimabuk asmara, Long Distance Relationship (LDR) bahasa gaulnya. Ada yang dengan sabar berhasil menjalaninya, namun tak sedikit pula yang menyerah ditengah perjalanannya.

LDR memang tak pernah mudah bagi mereka yang mengalaminya, walau sekarang kemajuan teknologi membawa kita ke era di mana kita bisa bertatap muka secara virtual, namun hal tersebut masih menjadi semacam pertemuan yang semu, pertemuan buatan, tidak nyata.

Belum lagi cemoohan dari orang sekitar seperti "Pacaran kok sama media elektronik" dan lain sebagainya itu terkadang dapat membuat telinga panas pula. Namun yang paling menohok adalah cemoohan seorang kawan yang berbunyi "Pacaran jauh-jauhan? Yakin doi nggak nyari lagi yang deket pas lagi jauh dari kamu?" Sebuah pertanyaan yang cukup menyakitkan, mengapa? Karena kita pun tak pernah benar-benar tahu apa yang pasangan kita lakukan saat kita berada jauh dari raganya.

Bermodal kata percaya yang terkesan sangat ringan dilafalkan, kita memberi separuh perhatian kita pada seseorang yang entah menaruh separuh perhatiannya kepada kita juga atau tidak. Tak ada jaminan apa-apa selain kepercayaan yang ditanam di hati, dan berharap tumbuh menjadi tumbuhan subur, dengan janji suci sebagai bunganya.

Bagiku sendiri, ada maupun tiada jarak tak menghalangi seseorang untuk mendua. Suami istri yang satu ranjang setiap hari pun bisa chatting dengan teman sepesialnya, tanpa diketahui oleh masing-masing pasangannya yang jelas-jelas meniduri satu ranjang yang sama. Semua tergantung setiap pribadi itu sendiri, karena memang cinta itu rumit. Kita terkadang tak bisa membedakan nafsu dengan cinta, yang memang gejolaknya serupa.

Setiap hati yang patah, menandakan cinta yang didamba belum benar-benar tiba. Setiap ucapan manis, terkadang berbuntut akhir yang pahit. Jadi sepantasnya saja mencinta, jika memang ia adalah suratan semesta yang memang ditujukan untukmu, ia takkan pergi kemana-mana, menunggumu di tempat yang sama, entah sampai kapan, sampai dirimu sadar, ada sebuah rasa yang tumbuh perlahan, menunggu suatu kepastian, dari dirimu yang selalu menghiasi angan.


Semarang, 19 Februari 2019

No comments:

Post a Comment