Posesif


Yang terasa hanya getir, saat dirimu mulai bercerita tentang suatu hal yang tak pernah ku suka. Yang ku bisa hanya diam, selagi menikmati obrolan yang mengalir riuh seperti aliran sungai saat musim hujan telah tiba. Yang tersisa hanya sesal, mengapa terlalu susah untuk menentang sesuatu yang tak pernah disuka.

Aku tak pernah mau mengusik segala yang melukiskan senyum pada lembar wajahmu, hanya terkadang tak rela bila semburat itu bukan datang dariku. Aku hanya takut menghadapi kenyataan jika kelak apa yang disebut "arti" tersebut luntur dari dalam hatimu.

Aku tak pernah berhenti belajar memahami, belajar terbuka, segalanya demi kenyamanan yang memang telah kusiapkan sebagai singgasana khusus untuk tahta suci, dirimu. Hanya sekali lagi, terkadang aku terlalu mudah untuk dimakan oleh prasangka yang kubuat sendiri. Pemikiran liar yang terkadang berusaha mendorongku menuju palung jurang bernama ketiadaan.

Yakinkan aku untuk selalu bisa menguasai keadaan, lalu kembali ke pelukmu yang selalu hangat, sehangat perapian yang mengusir kejamnya dingin di pegunungan. Hapus butir-butir air yang tersisa dari muka sebagai bunga dari pahitnya menelan dengki yang tak pernah absen menusuk sanubari. Bantu aku berdiri tegap untuk kembali memulai hari-hari yang kerap bernada sumbang.

Ajari aku berenang menyelami sisi terdalam dirimu yang selalu gelap terbungkus gulita yang senyap. Kan ku bawakan lentera, supaya kita dapat kembali pulang, menemukan kembali kehangatan di sebuah rumah mungil dengan berjuta kenangan yang dilukis oleh sepasang tangan kita, berdua.

Semarang, 10 Februari 2019

No comments:

Post a Comment