People Change


Akan ada masa di mana orang-orang terdekatmu, entah itu teman, keluarga maupun pasangan, akan mengalami fase di mana ia akan berubah. Berubah dalam arti sifat, karena kalau berubah kostum, power rangers namanya. Hiyaa~ Yak maafkan itu tadi. Nah, pertanyaannya adalah siapkah kita mengikuti arus perubahan yang ada?

Kita awali dari keluarga, jika bicara keluarga tak mungkin lepas dari peran kedua orang tua. Semakin dewasa dirimu, kau perlahan akan merasakan perubahan pada kedua orang tua. Misal, harus berbicara dengan suara yang keras namun tetap halus, karena mulai menurunnya fungsi organ tubuh, mereka jadi mudah masuk angin, topik pembicaraan yang tentu akan tak seperti biasanya, dan lain sebagainya. Artinya apa? Seiring dirimu bertumbuh, kedua orang tua juga pasti akan bertumbuh pula. Bedanya di sini kamu bertumbuh ke masa emas, sedangkan mereka bertumbuh ke masa renta. Siap tidak siap tetap harus siap menerima keadaan yang ada, bahwa mereka tak akan menemani kita selamanya. Siapkah kita menerima arus perubahan yang ada?

Lalu kita membahas teman, meninggalkan atau ditinggalkan akan mulai biasa. Relasi bertambah, namun circle pertemanan menyempit. Begitulah kenyataannya. Jika kau mengira teman masa kecil akan selalu di sisimu selalu, ingatlah akan ada perpisahan dalam sebuah hubungan pertemanan, entah itu perpisahan sementara karena jarak, atau perpisahan selamanya karena rasa. Mengapa rasa? Lambat laun, perubahan tadi tidak selalu berdampak positif, kerap juga dampak negatif menguasainya, dan jika teman masa kecilmu tadi terlalu membawamu ke dampak negatif, yah kau tahu bagaimana cara memilah orang yang tepat untuk selalu di sisi, namun perlu diingat, jangan pernah melupakan relasi yang pernah terjalin antar manusia, karena suatu saat, kau akan dikejutkan oleh relasi yang pernah kau buat, padahal sebelumnya, kau berpikir bahwa relasi dengannya itu tak ada gunanya. Dan lihat, hidup kembali berhasil mengejutkanmu lagi.

Pasangan? Ini mungkin sedikit panjang. Pasangan yang berubah. Sebagai pembelajaran, sedikit keluar topik, aku akhirnya mulai paham arti mendengarkan. Sebagian orang hanya tertarik bercerita tentang semua hal tentang dirinya sendiri, tak peduli saat pasangannya tadi butuh wadah untuk menuangkan ceritanya kepada cangkir yang telah ia pilih. Iya, dirimu. Mendengarkan ternyata tidak semudah kelihatannya, dan dari percakapan tersebut, seseorang bisa tahu mana orang yang setia mendengarkan, dan mana yang berharap agar cerita yang ia dengarkan tersebut cepat berakhir.

Poinnya adalah, jika kamu ingin didengar, maka mau-lah juga mendengar. Hidup adalah soal berbagi, jika hanya kau saja yang meminta prioritas untuk didengar, maka jangan harap jika orang yang tak pernah kau dengar tadi, mencari wadah lain untuk menuangkan segala suka duka yang ia punya, kepada seseorang yang ternyata bukan dirimu. Apa hubungannya dengan pasangan yang berubah? Hubungannya adalah, mungkin ia tidak benar-benar berubah. Mungkin kau saja yang terlalu acuh untuk melihat apa yang menyebabkan dirinya akhirnya berubah.

Semarang, 28 Februari 2019

No comments:

Post a Comment