Ada rasa tidak rela, saat senyum itu lebih terkembang oleh seseorang yang bukan aku. Aneh bukan? Bukankah seharusnya senang, melihatnya gembira sesaat setelah dirundung nestapa? Namun kenapa kali ini tidak?
Ada pepatah tongkrongan yang pernah bilang, aku bahagia saat kau bahagia pula, tai kucing. Mana mungkin kau bahagia saat ia lebih senang dibahagiakan orang lain yang bukan dirimu? Persetan dengan teori-teori patah hati itu, jika kau tetap suka saat ia dibahagiakan orang lain, hanya satu artinya, kau tidak benar-benar cinta. Silakan jika kau mau membantah, saat cinta tak harus memiliki, berarti ada sesuatu aneh yang sedang menerpa logikamu. Tapi cinta kan tidak memandang logika? Iya, aku tahu. Tapi semakin ke sini, semakin aku sadar, bahwa cinta tanpa logika hanya akan berujung derita. Bagaimana mungkin?
Kita ambil contoh cinta tak harus memiliki tadi. Saat sedang jatuh cinta kepada seseorang, bohong kalau kau tidak ingin memilikinya juga, walaupun secara sembunyi dengan kode-kode rumit bak caesar cipher, dalam palung hati paling dalam kau pasti tetap menginginkannya menjadi milikmu juga. Saat tengah malam orang yang kau suka mencurahkan hatinya tentang gebetan barunya, pasti tetap ada cemburu tercipta, bukankah begitu? Itulah salah satu contoh derita yang disebutkan di atas tadi. Derita-derita tersebut hanya akan membuatmu semakin terpuruk, berusaha tegar saat hati ambyar, berusaha tersenyum saat hati orang yang dicintai tadi sedang ranum, bersama dengan gebetan yang selalu ia ceritakan sepanjang malam-malammu mengais perhatian yang sia-sia.
Kita ambil contoh cinta tak harus memiliki tadi. Saat sedang jatuh cinta kepada seseorang, bohong kalau kau tidak ingin memilikinya juga, walaupun secara sembunyi dengan kode-kode rumit bak caesar cipher, dalam palung hati paling dalam kau pasti tetap menginginkannya menjadi milikmu juga. Saat tengah malam orang yang kau suka mencurahkan hatinya tentang gebetan barunya, pasti tetap ada cemburu tercipta, bukankah begitu? Itulah salah satu contoh derita yang disebutkan di atas tadi. Derita-derita tersebut hanya akan membuatmu semakin terpuruk, berusaha tegar saat hati ambyar, berusaha tersenyum saat hati orang yang dicintai tadi sedang ranum, bersama dengan gebetan yang selalu ia ceritakan sepanjang malam-malammu mengais perhatian yang sia-sia.
Oleh karena itu sudahlah, mulai belajar realistis saja. Kuakui idealis memang lebih keren, namun coba pikir lagi, saat kekerenan tersebut malah menyulitkanmu, sudah saatnya memalingkan muka. Namun jika tidak ya terserah saja, toh orang punya jalannya masing-masing. Ini hanya opini seseorang yang sudah lelah mendengar curhatan-curhatan lawan jenis —yang bukan siapa-siapanya— lalu malah kemudian menemukan, saat sedang tidak mempunyai ambisi berlebihan.
Pada akhirnya, keputusan memang ada di tangan masing-masing pribadi. Keputusanku adalah keputusanku, begitupun sebaliknya. Selamat mencoba bertahan, para pejuang. Saat kau sudah lelah, coba tengok puing-puing yang sepertinya tertinggal, kau akan menemukan seseorang yang tak pernah kau duga sebelumnya, dan hei? Semesta kembali datang dengan kejutan manisnya.
:)
Semarang, 5 April 2019
No comments:
Post a Comment