Tentang sebuah Pinisi dan Dermaganya


Selalu ada kesempatan untuk mendua, pertanyaannya, maukah kau mengambil kesempatan itu atau tidak.

Bagi seseorang yang dipaksa pisah oleh jarak, selalu muncul perspektif-perspektif liar tentang sesuatu yang negatif dari seorang pasangan yang jauh di sana, walaupun sebenarnya ia tak pernah melakukan apa yang selama ini kita pikirkan. Sifat alami manusia untuk berprasangka. Namun tak bisa dipungkiri, hal-hal semacam itu terkadang menjadi bunga pikiran yang selalu terngiang-ngiang sebelum kita memejamkan mata. Bukannya tidak percaya, prasangka hadir terkadang tanpa dasar apa-apa, menyebalkan.

Takut kehilangan. Iya, mungkin tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak takut kehilangan, apalagi terhadap sesuatu yang ia sayang. Faktor psikologis yang telah terlanjur tertanam di dalam terkadang terlalu sulit dilepaskan, hanya sakit yang kemudian timbul, hanya luka yang kemudian muncul. Aku selalu takut saat jarak memberikan ruang bagi seseorang lain untuk mendapatkan tempat di renungmu, dapat melihat seutas senyum yang terkembang di tiap harimu, dapat menggenggammu dikala rapuh, dan jauh dariku. Ah, lagi-lagi prasangka ini menguasai.

Aku selalu percaya pada setiap lontaran aksara yang kau berikan, aku selalu memegang janji-janji yang dari dulu kau titipkan. Mungkin waktu yang akan mengasahnya, entah menjadi sesuatu yang tajam atau malah hilang.

Aku hanya mau bilang bahwa kini aku telah menemukan, isi dari ruang kosong yang kini kau tempati. Kau tahu, aku merasa diistimewakan dari hal-hal kecil yang mungkin tak kau sadari adanya. Hal-hal yang membuatku merasa lebih berarti sesaat setelah aku berada disampingmu. Hal kecil yang terkadang disepelekan oleh orang-orang karena mungkin memang dianggap sebagai sebuah hal yang terlalu remeh untuk dilakukan.

Aku takkan pernah tau seperti apa hidup jika saat itu aku memutuskan untuk tidak menghiraukan dirimu, semua mengalir sedemikian rupa, menjelma menjadi arus sungai yang kian deras, sembari menebak seperti apa bentuk hilir dari sungai ini kelak. Namun entah bagaimana wujud hilirnya nanti, aku bersyukur bisa berproses bersama, walaupun aku tetap menaruh harapan besar supaya nantinya apa yang kita rakit bersama ini juga bisa dituai bersama pula nantinya.

Terlalu lelah untuk mencari lagi, terlalu lelah untuk membuka diri lagi, terlalu lelah untuk kembali beradaptasi. Kini kapal pinisi itu telah menemukan tempat berlabuh, dermaga yang sedikit koyak, namun tetap berdiri gagah menantang ganasnya ombak lautan. Seakan memang ia tercipta sebagai satu-satunya dermaga yang dinantikan oleh sebuah kapal pinisi yang lelah diombang-ambingkan gelombang, supaya ia bisa berlabuh di peluknya, menetap di tempat paling hangat di sudut dunia, untuk selama-lamanya.

Semarang, 24 April 2019

No comments:

Post a Comment