Kala


Hanyut dalam keruhnya muara peradaban,
Masih tersisa tetesan sesal yang mengunci indra,
Tentang lambaian yang memisahkan sepasang raga.

Kau tahu?
Harum aroma ragamu, masih tertinggal di kotaku.
Puing-puing itu lalu menyusun kata rindu.

Kau adalah alasan mengapa dawai itu bergema,
Menyusun irama tanpa nada,
Merangkai butir-butir aksara,
Tentang perangai di ujung bumantara.

Kau adalah lisan tak terucap,
Terkunci dalam ruang sunyi tak berpenghuni,
Menanti nyala pelita sepasang manusia,
Tuk kembali menyalakan gelora renjana.

Mencari tak selalu berujung menemukan,
Mulai terbuka, mulai menerima.

Tak selamanya yang diharapkan menjadi kenyataan,
Kenyataan ada bukan untuk dirimu seorang,
Ia datang membawa pilihan,
Agar sepasang manusia
Bisa saling menemukan
Tanpa ambisi berlebihan.

—Ranggahaka

No comments:

Post a Comment