Kau tahu, saat terkadang yang dibutuhkan hanyalah ingin sejenak merebah, ternyata pikiran yang sesak membuat semuanya menjadi tidak menyenangkan, namun ada sebuah obat yang hingga saat ini masih mujarab untuk meluruhkan. Mendengar suaramu di ujung sana, gelak candamu seolah meredam bisingnya prasangka.
Sore ini angin berembus sangat kencang. Dari pinggir pematang, padi nampak menari meliuk-liuk mengikuti irama angin yang menggerakkannya, suasana yang damai. Kontras sekali dengan badai yang sedang menerpa pikiran. Bunyi dari notifikasi khusus yang telah ku setel untukmu tak kunjung terdengar, membuat resah diri yang sedang dilanda gundah. Hei, sedang apa di sana?
Aku hanya butuh suaramu untuk dapat sejenak meredam rindu, namun memang, hal yang diinginkan terkadang sukar diwujudkan. Ada saja halangan yang menghadang, karena kesibukan atau entah apapun itu, terkadang manusia memang hanya bisa berharap.
Termakan prasangka, adalah hal yang paling menyebalkan, pikiran yang terlalu liar senantiasa menghantui diri yang tersekat oleh jarak. Walau percaya selalu menjadi pondasi utama, namun entah, terkadang prasangka datang tanpa permisi, nyelonong masuk mengobrak-abrik isi pikiran yang sesekali lengang.
Peranmu kini terlalu besar untuk hidupku yang masih terlalu sempit, sering aku mencela diri karena tak selalu berani mengutarakan isi hati. Semata karena terlalu takut menggores hagia yang seharusnya tercipta. Entah, kebiasaan lama itu tak kunjung mau pergi.
Pesanku pada sore ini, ada atau tiada aku, rawatlah dirimu sebaik apa yang kau lakukan saat merawat diriku, merawat hubungan ini. Ingatlah, aku tak bisa selalu di sisimu untuk saat ini. Yang aku bisa hanya memberi petunjuk, yang memang terkadang hanya berupa berubahnya sikapku terhadapmu saat ada sesuatu yang tidak kusuka, aku tahu sebenarnya kau juga merasakan hal yang sama, namun bingung harus membalas dengan apa. Tak apa, terkadang aku memang tak bisa menyuarakannya secara lisan, maaf harus merepotkan karena kau harus selalu mereka-reka apa yang terjadi padaku sebenarnya.
Aku selalu bersyukur bisa berada disebelahmu, melewati segala hal yang baru. Aku tak pernah menyesali hidup, namun aku akan menyesali tiap jengkal perbuatanku yang terkadang atau mungkin selalu membuat susah dirimu. Maaf kusampaikan pada tiap rongga hatimu, apabila aku belum bisa melakukan apa yang selama ini kau mau.
Pemalang, 1 Agustus 2019

No comments:
Post a Comment