Amarah


“Mereka yang kita sayangi, yang paling mampu melukai” - Monkey To Millionaire

Sebuah kata, walau terlontar saat hati sedang panas, ia tetap menghujam bagai parang yang menusuk raga seseorang. Padahal sebenarnya, ia punya maksud untuk melerai keadaan.

Level benci tertinggi seseorang adalah ketika seseorang tadi sudah tidak peduli lagi tentang apa yang kau perbuat, acuh, bodo amat. Sakit itu semakin menjadi apabila kata-kata tersebut keluar dari mulut orang terdekat yang kita punya. Entah, ada rasa sedih yang hinggap, bahwasannya apa yang kita rawat sebaik mungkin ternyata tidak memberi timbal balik seperti yang diharapkan.

Ada batasan-batasan abstrak yang melingkupi perasaan manusia, batasan-batasan yang hanya diketahui oleh orang itu sendiri. Bahwasannya benar, merawat rasa adalah hal paling sukar untuk dilakukan. Terkadang, ego kita harus terinjak-injak sekadar untuk memenangkan ego perasaan orang yang ingin kita jaga tadi. Namun terkadang pula, sebuah ego yang sudah diinjak-injak pun tidak banyak membantu membalikkan keadaan. Jika sudah seperti itu, sekuat apapun kita mencoba, sepertinya tak ada gunanya, yang kita dapat malah sisi lain yang tak pernah kita duga sebelumnya.

Seorang lelaki yang egonya telah terinjak lalu diacuhkan ibarat seorang pejalan kaki yang tersandung lalu masuk jurang. Ia kesakitan di dasar sana selagi menunggu seseorang yang dapat menyelamatkan. Lalu jika sudah seperti itu, apalagi yang bisa diharapkan? Yang bisa diharapkan tak lain adalah bungkukkan sedikit egomu juga, letak jurang adalah di dasar, sedangkan egomu terletak di ujung. Sedikit bungkukan sekiranya diperlukan agar ego tersebut dapat turun dari ujung, mengulurkan tangan untuk paling tidak bisa menarik pejalan kaki tadi keluar dari dasar jurang yang ada, walau pasti tetap ada sakit yang tersisa, namun setidaknya ia telah menemukan penolong untuk dapat bertahan hidup. Sakit yang ada mungkin akan sembuh seiring berjalannya waktu, walaupun bekasnya takkan pernah hilang. Namun setidaknya ia tidak mati dibawah sana, sembari menunggu uluran tangan yang selalu ia harap-harapkan, dari dirimu seorang.

Semarang, 15 Agustus 2019

No comments:

Post a Comment