Karsa


Satu yang kupahami dari sikapmu belakangan ini adalah, kau sanggup bersandiwara seolah tak terjadi apa-apa saat sedang bersama teman-teman. Entah itu hanya pelarian untuk mengais kembali rasa yang hilang, atau memang sekadar rasa bencimu terhadap kesendirian. 

Namun lain lagi saat bersamaku, segala tangis, amarah, dendam, senang, kau lampiaskan seolah kaulah yang paling tersakitkan. Tak apa, aku lebih suka dirimu seperti itu, walau aku harus siap repot tiap kali sebuah rasa di dada itu meledak saat waktu sedang kurang memungkinkan untuk bersama. Aku tak pernah keberatan jam berapapun batinmu butuh untuk didengarkan, tangismu butuh diredam, atau kepalamu butuh disandarkan, sebisa mungkin, aku akan ada walau tak kau minta.

Tolong jangan memintaku pergi saat dirimu sedang berada di bawah, satu kelemahanku adalah tak mampu meninggalkanmu di kala seperti itu. Maki aku seperti saat dirimu sedang kesal terhadapku, namun tolong, jangan kau minta aku pergi saat dirimu sedang dirundung pilu. Aku hanya ingin di sisimu, selalu. Meredam segala yang meledak di dalam dadamu. Walau aku tahu, disaat seperti itu, aku harus rela diinjak-injak didepanmu, namun mungkin memang itu konsekuensi yang harus diterima, karena jika tidak ada yang mau mengalah, mungkin hubungan itu yang akan kalah.

Di dalam hubungan sepasang manusia, laki-laki kiranya tak boleh memiliki ruang untuk menyerang, ia seperti satu-satunya sumber yang pas untuk disalahkan, ia yang harus selalu rela menelan getir tiap kali ada tumpahan rasa yang tercipta.

Namun di luar itu semua, aku tak pernah menyesal memilihmu untuk berdiri di sisiku. Semoga sepanjang waktu, selalu.

Wonogiri, 24 Agustus 2019

No comments:

Post a Comment