Seutas malam perlahan melahap sang siang, lampu-lampu kota lalu menyala, berlomba-lomba membias petang menjadi terang. Deru knalpot dari motor yang mulai termakan usia itu terhenti, menyapa rumah yang telah lama tak disinggahi. Aku pulang.
Bagi sebagian orang, kepulangan senantiasa menorehkan gita manis dalam setiap dekapan orang-orang yang telah lama ditinggalkan. Namun bagi sebagian lain, rumah seperti menjadi batas suci, karena sebelumnya, ia telah memutuskan untuk pergi, yang katanya mencari jati diri. Persetan yang mana posisimu saat ini, seorang bajingan-pun kiranya akan tetap ditunggu kepulangannya, walau mungkin terlanjur dalam luka yang telah ditancapkan, namun ada ruang kosong yang mengisi hati orang-orang yang kau tinggalkan, ruang yang memang untukmu-lah ia diciptakan.
Tiap orang mempunyai caranya sendiri mengartikan kepulangan, tak bisa disamakan. Cara pandang pulang menurutku dan menurutmu mungkin berbeda. Ada yang mengartikan pulang adalah harus tentang seonggok bangunan, ada pula yang menganggap pulang adalah tentang seseorang.
Aku pernah memperhatikan pertemuan sepasang insan di ruang jenguk sebuah rutan. Sang perempuan nampaknya mengartikan kepulangan adalah tentang seseorang. Walaupun orang yang ia anggap rumah itu kini adalah seorang narapidana, namun ia tetap jatuh di peluknya, peluk seseorang yang telah ia anggap sebagai rumah baginya. Dari situ aku berpikir, sekuat itu kekuatan rumah bagi seseorang. Ia tetap lekat dipeluknya seburuk apapun rumah yang ia punya. Ya walaupun di era sekarang, hukuman terkadang mengetuk orang-orang yang tak punya daya pembelaan, karena kurang mampunya seseorang untuk dapat menyewa seutas dasi dari advokat.
Dalam sebuah perjalanan, rumah akan memiliki fase-nya untuk bertahan. Entah akan lebur dalam perebutan warisan, atau akan tetap berdiri sebagai satu aset untuk memutar kembali sepercik kenangan. Jika sudah di fase itu, mau tak mau harus ada rumah baru yang akan menjadi tempat singgahmu kelak. Rumah yang akan kau bangun sebagai buah dari perasan keringat. Kini, mungkin aku telah sampai di fase menyiapkan pondasi. Untuk jadi realisasi, maukah kau ulurkan tanganmu untuk dapat sekadar membantu? Tak apa, aku juga belum ada pengalaman membangun apapun itu, mari belajar perlahan dari awal, karena wujud akhir dari rumah ini kelak, ada di tangan kita. Ya, sepasang tangan kita, berdua.
Wonogiri, 14 September 2019

No comments:
Post a Comment