Secarik Kertas


Detik ini seseorang bisa tertawa lepas, beberapa menit berikutnya ia bisa berubah datar, marah, murka, lalu meneteskan air mata.

Tiada seorangpun  yang dapat menebak alur yang telah disuguhkan semesta untuk mewarnai secarik kertas kecil bernama hidup. Bagaimana dinamika yang telah dirancang sedemikian rupa ini dapat membuat geleng-geleng kepala, atau bahkan diam terpesona.

Seringkali, kita hanya memikirkan sakit yang menerpa hati kecil kita sendiri, bahwa kita-lah yang paling tersakiti. Namun dibaliknya, pernahkan kita juga memperhatikan seseorang yang dinilai telah menyakiti hati kita tadi? Benarkah sepenuhnya kita yang paling tersakiti? Atau malah justru kita yang menyakiti?

Konflik muncul akibat dua sisi yang saling menonjolkan ketidakpuasan mereka masing-masing. Jika dirimu berpikir bahwa kau-lah yang paling dirugikan dalam konflik ini, mungkin dirimu kurang membuka mata bahwa ada luka yang juga menyayat lawanmu dalam konflik kali ini, sisi yang terabaikan, karena kita terlalu tamak memberi makan ego kita sendiri.

Terburu-buru menyimpulkan hanya akan menciptakan penyesalan. Maka dari itu, coba perbaiki sesuatu yang kiranya masih mungkin untuk diperbaiki. Jangan sampai kerusakan itu menjelma menjadi penyesalan suatu saat nanti. Karena jika itu sudah terjadi, sudah tak ada lagi  tombol untuk kembali.

Semarang, 18 September 2019

No comments:

Post a Comment