Beberapa hal memang sengaja diciptakan agar kita berpikir, mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa hal tersebut menimpa diri kita sendiri? Sejenak umpatan-umpatan itu begitu gemas ingin dikeluarkan, namun ada sebuah tameng yang menahan, sepanas-panasnya sebuah keadaan, jangan pernah meragukan kekuatan otak untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Kesal, reaksi instan dari hati yang menuntut sebuah ketidakpuasan. Saat menyalahkan hanya akan memperburuk keadaan, mau tak mau harus kau telan sendiri pil pahit yang tersedia di ujung meja sana. Demi tujuan agar tidak merugikan pihak lain, kiranya lebih baik pil itu ditelan sendiri, biar kau rasa sendiri saja pahitnya, jangan biarkan orang lain tahu betapa pahitnya sebuah keadaan yang sedang digoyang oleh gejolak perasaan.
Love youself. Belajar mencintai diri sendiri tak semudah itu, saat kau tak menemukan objek untuk melampiaskan kemarahan, akan ada pikiran untuk menyalahkan diri sendiri, bahkan terkadang sampai ingin melukai. Hal itu terjadi karena tak ada barang terdekat yang bisa digunakan sebagai bahan pelampiasan, dan yang paling dekat dengan dirimu sendiri adalah? Benar, tubuhmu.
Rasa amarah yang tak tersampaikan biasanya hanya akan tertumpuk di dada, menjelma menjadi sesuatu yang sesak. Saat tumpukan tersebut sudah terlalu penuh untuk tidak dikeluarkan, pelampiasan terhalus adalah keluarnya butir-butir air dari mata, buah dari penatnya dada menahan rasa.
Pahit, terlalu pahit untuk ditahan terus menerus. Jika sudah seperti itu, tangisan kiranya menjadi alternatif saat tak ada lagi yang bisa diharapkan, ia tulus keluar tanpa menyakiti orang sekitar. Menjadi sesuatu yang paling murni untuk mengutarakan rasa yang tak dapat diucapkan. Walau kesal, karena hal paling murni tersebut terkadang digunakan segelintir orang hanya untuk menarik sorotan. Menghilangkan esensi paling murni dari sebuah rasa yang tak terucap.
Instrospeksi. Hal paling sulit saat amarah telah menguasai dada adalah tidak menyalahkan. Saat tubuh sedang dilanda gejolak, yang ia tahu adalah ia yang benar, orang lain selalu salah. Lalu beberapa saat kemudian menyesal, karena ia melukai orang lain yang sebenarnya tidak punya satu kesalahan. Hal tersebut bisa dijadikan pembelajaran, walau sulit, namun kiranya penting untuk sedikit menurunkan tensi agar bisa saling instrospeksi, lalu mencari jalan keluar dari sesuatu yang sukar.
Teori memang selalu lebih mudah dari praktek. Namun memang seperti itu, ia diciptakan sebagai pengingat, entah akhirnya ia dikerjakan atau ditinggalkan.
Semarang, 3 September 2019

No comments:
Post a Comment