Satu yang menyebalkan adalah kita tidak pernah tau luka macam apa yang akan kita terima, sekarang, besok atau suatu hari nanti. Kita tidak bisa memilih, kapan atau luka macam apa yang akan kita dapatkan. Ia datang tanpa diundang, dalam berbagai macam bentuk. Tumpul atau tajam, di saat kita sedang kuat-kuatnya atau rapuh-rapuhnya.
RanggaHaKa
Buah dari lamunan yang disalurkan lewat tulisan
Suara dalam Bara
Kelana
Yang abadi hanya perubahan, ucap Kepala Kantor waktu itu. Benar juga, batinku. Senyaman-nyamannya manusia hari ini, kelak akan merasakan ketidaknyamanannya, cepat atau lambat. Ditinggal sementara atau selamanya. Ah sedih juga, sepertinya lebih menyenangkan membahas sisi baiknya saja.
Rabu
Aku melihat bayangmu sore tadi, di kerumunan manusia yang sedang mengantre lampu merah, di kaca spion sepeda motor yang sudah kupakai sejak masa kuliah, di riuhnya lalu lintas pada jam pulang kerja. Namun tampaknya aku salah, tidak ada kamu di sepanjang perjalanan aku pulang kerja tadi sore.
Leles
Leles, nama stasiun yang mungkin akan selalu terpatri di ingatan sebagai salah satu stasiun bersejarah, khususnya untukku pribadi.
Urup
Akhir-akhir ini aku lebih sering menyalahkan diriku sendiri tiap kali orang-orang terdekatku kecewa, berubah sikap, menangis, atau hal-hal berbau negatif lainnya, dan aku tak bisa hadir untuk sekadar memeluknya. Jika sudah begitu, beribu pertanyaan biasanya muncul di kepala begitu saja tanpa aba-aba. Manusia gagal. Cap yang kuberikan pada diriku sendiri.
Sudut Pandang
Mungkin di antara jutaan atau milyaran manusia di muka bumi ini, penulis cukup diberkati dalam hal begitu murahnya cara mereka untuk menumpahkan emosi. Tinggal duduk, melamun, lalu menulis. Cukup hemat dibandingkan orang-orang yang menumpahkan emosinya dengan cara menyewa satu ruangan untuk memukul atau memecahkan benda-benda yang memang disediakan untuk dihancurkan. Atau mereka yang melarikan pikiran mereka ke hal-hal yang berbau obat-obatan. Walaupun di lain sisi, menjadi penulis juga rentan mendapat stigma,
"Kamu pengen jadi penulis? Mau dikasih makan apa anak istrimu nanti?"






