Suasana kamar indekos malam ini sedang suntuk-suntuknya, aku memutuskan untuk keluar sekadar mencari udara segar. Setelah menghidupkan motor, aku lalu menarik gasnya dengan tujuan entah kemana, selama roda berputar di sanalah hati bersarang.
Namun belum terlalu jauh dari kamar indekos, hujan perlahan turun dan semakin lama semakin deras, aku bergegas mencari tempat berteduh, kebetulan ada warung yang buka di depan, warung yang hampir selalu ada di setiap sudut kota, dengan ciri warna biru, dan warung ini indo sekali. Aku lalu memarkir motor dan meneduh, bingung harus berbuat apa, aku lalu iseng mencoba memperhatikan sepasang manusia yang entah adalah sepasang kekasih atau hanya terjebak di zona pertemanan, atau mungkin hanya rekan bisnis? Ah tak tahu juga, manusia memang hanya bisa menerka.
Sepasang manusia tersebut adalah mas-mas penjual roti bandung dan mbak-mbak penjual minuman es coklat. Dari yang dijual saja mereka sudah saling melengkapi, roti bandung yang jika dimakan akan menyisakan seret di tenggorokan, lalu dibilas oleh segarnya es coklat yang sangat lezat, ah hidup memang indah jika seseorang bisa saling melengkapi. Ngomong-ngomong hujan ini adalah hujan perdana yang mengguyur kota, setelah kemarau yang cukup terik kini suasana bisa sedikit lebih sejuk.
Semua yang pertama selalu bisa menanamkan kesan yang mendalam, entah itu dalam bentuk pengalaman atau hanya sebuah kenangan. Namun malam ini, hujan membawa pesan bahwa sebuah kenangan memang hanya untuk dikenang, tak bisa dikembalikan. Namun, pengalaman bisa dibuat menjadi semacam rambu-rambu supaya yang buruk tak kembali terjadi dan yang baik biarlah tetap mengalir sebagaimana mestinya.
Banyumanik, 27 Oktober 2018

No comments:
Post a Comment