Aku tak bisa marah padamu, walau tak bisa dipungkiri pula, sering perasaan cemburu datang menghampiri, perasaan hati yang campur aduk karena bingung harus berbuat apa saat itu terjadi.
Namun, saat dirimu kemudian menemuiku, ada perasaan aneh, seperti api yang dibasuh air, rasa itu lenyap seketika, terganti oleh rasa yang tak bisa didefinisikan.
Dulu guruku semasa SMA pernah berkata, saat kau mempunyai pasangan, tanyakan padanya kenapa dia mencintaimu. Jika ia tak bisa menjawab, maka pertahankan. Karena sejatinya, cinta tak pernah butuh alasan.
Sebenarnya aku risih saat ditanyai mengapa aku tidak cemburu kala dirimu terkadang 'kebablasan'. Sebenarnya tetap ada sesuatu yang mengganjal di sana, namun mengingat cerita masa lalumu, melihat perjuanganmu lari dari semua itu, rasa itu dapat sedikit terobati, walaupun tetap ada rasa sesal karena dirimu terkesan lebih memilih seseorang yang bukan aku. Sebagai lelaki normal aku kira wajar-wajar saja ada rasa cemburu, asal jangan berlebihan saja.
Dalam diamku tersimpan luka, dalam diamku tersimpan harapan, dalam diamku tersimpan perasaan. Sejujurnya aku termasuk seseorang yang tidak pandai berekspresi, oleh karena itu aku lebih suka mengamatimu dari kejauhan dan hanya diam saat sesuatu yang menyakitkan itu terjadi. Saat kau anggap diamku berarti pasif, mungkin kau yang tak sadar telah terlalu aktif.
Semarang, 20 November 2018

No comments:
Post a Comment