Rumah


Semakin bertambah usia, kategori untuk menemukan sesosok pasangan hidup kian berbeda. Di sini, aku berkata semakin bertambah usia, bukan semakin bertambah dewasa, mengapa? Ah, aku sendiripun tak tahu aku sudah bertambah dewasa atau belum, namun yang pasti usia ku selalu bertambah.

Dulu, yang terpenting adalah tentang penampilan, bentuk fisik, dan semua yang dapat dilihat oleh mata telanjang, tanpa berpikir lebih jauh. Konon katanya, cinta adalah sumber bahagia. Namun sebenarnya apa yang ingin dibahagiakan? Nafsu apa batin? Belum lama ini ada seorang teman yang bertanya,

"Beneran, kamu suka sama dia?"
"Enggak"
"Haha, aku tahu kamu juga harus pilih-pilih kalo soal cewe ya."

Sejenak aku berpikir, memang apa salahnya mencintai seseorang yang tidak sesuai stereotipe banyak orang? Dimana ia harus putih cantik, body aduhai, dan menarik perhatian. Sebenarnya yang mau kau bahagiakan nafsu apa batinmu? Aku pun tidak munafik, memiliki pasangan yang seperti itu adalah mimpi setiap laki-laki, namun apa guna mempunyai perempuan seperti yang disebut di atas tapi kerap kali bertengkar atas sesuatu yang terkadang sepele.

Aku tidak menilai semua orang yang cantik menurut stereotipe banyak orang tadi memiliki sifat yang 'jelek', orang yang tidak cantik menurut stereotipe orang pun kadang mempunyai sifat yang sama pula. Yang ingin aku tekankan di sini adalah pemikiranku tentang mencari seorang pasangan hidup, yaitu dia yang mengerti, dia yang memahami, dia yang satu frekuensi. Tak melulu harus menarik, tak perlu kurus, putih dan bersih.

Aku hanya ingin menemukan rumah, dimana aku selalu tak sabar untuk bisa pulang ke rumahku tersebut, rumah yang memberi rasa tentram setelah seharian dipusingkan oleh tekanan yang diberikan hidup, rumah yang menghangatkan, saat orang-orang dunia luar sedang dingin dan ketus, rumah yang memberi kasih dan sayang, saat banyak orang yang berpura-pura untuk itu.

Dan yang terpenting, rumah tak akan pernah meninggalkanmu, walau hujan badai sekalipun. Ia akan di sana bersamamu, melewati berbagai macam cuaca, berbagai macam sengketa. Tak jarang rumah juga bisa rusak, genting yang bocor dan lain sebagainya, di situlah kita bisa belajar untuk saling memperbaiki. Hingga akhirnya rumah tersebut tua dan rapuh, lalu seperti istana pasir yang disapu ombak, semua lenyap, dan kembali menjadi sesuatu yang kosong.

Banyumanik, 12 November 2018

No comments:

Post a Comment