Bagi seseorang, gunung adalah pelarian untuk sejenak melupakan. Padahal sejauh-jauhnya dirimu berlari di dunia ini, kamu hanya akan kembali di titik awal dirimu memulai semua ini lagi.
Di sela-sela jadwal kuliah yang semakin padat, kami menemukan akhir pekan yang sepertinya cocok dimaanfaatkan untuk melakukan pendakian. Dan kali ini, kami memutuskan untuk mendaki Gunung Sumbing, gunung tertinggi kedua di Provinsi Jawa Tengah, setelah Gunung Slamet tentunya.
Setelah mengajak teman-teman yang suka bercapek ria berjalan di tengah jenggala, akhirnya yang bisa berangkat hanya 4 orang saja, alhasil kami berempat berangkat dari Semarang pada Jum'at malam sekitar pukul 10 waktu setempat. Kami sampai di basecamp sumbing, tepatnya via jalur pendakian Garung sekitar pukul 2 dini hari. Pada perjalanan kali ini kami memang hanya ingin nyantai, menikmati, tak mau dibebani oleh target puncak yang selalu membayangi.
Kami menginap semalam di basecamp, untuk kemudian memulai pendakian pada pagi harinya. Setelah packing ulang, kami berangkat dengan menggunakan jasa ojek, dan ternyata sensasi-nyaaaaa, mengerikan dong~
Ojek mengantar kami sampai pos 1, setelah itu kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Gunung Sumbing terkenal dengan pelitnya 'bonus' atau jalan yang landai. Alhasil, kekuatan dengkul akan terkuras dengan cepat, hehe. Setelah berjalan sekitar 2 jam, kami sampai di pos 2 (Genus). Kami beristirahat sebentar di pos 2 untuk kemudian melanjutkan lagi perjalanan. Baru beberapa langkah berjalan dari pos 2, hujan mengguyur kami dengan intensitas ringan hingga akhirnya deras, kami lalu melanjutkan perjalanan dengan jas hujan.
Saat kami kira jalur tanpa bonus dari pos 1 sampai pos 2 adalah jalur yang menguras tenaga, tenyata kami salah. Perjalanan dari pos 2 ke pos 3 akan melewati tanjakan jahanam bernama engkol-engkolan, tanjakan yang terjal, dan jarak tempuhnya yang lama ditambah lagi oleh medan yang licin terguyur hujan, lengkap sudah untuk sekadar mewarnai penderitaan kami. Namun, kembali ke tujuan awal, kami ke sini untuk menikmati, bukan memaksakan diri. Dan saat semua dilakukan dengan senang hati (ya ada dongkolnya dikit sih), akhirnya kami sampai di pos 3 (Pestan), untuk meneduh sejenak setelah diguyur hujan yang hampir tanpa henti sepanjang tanjakan engkol-engkolan.
Karena rasa dingin kian menusuk diri, kami memutuskan untuk segera mendirikan tenda, tempat terhangat untuk melindungi diri dari hembusan angin yang kian kencang. Setelah tenda berdiri, kami langsung ganti pakaian yang basah kuyup karena hujan dengan pakaian yang kering. Karena katanya, tidur di gunung adalah sebuah keistimewaan. Nah, masalah dimulai dari sini, dari mulai tas yang basah hingga airnya merembes ke dalam dan membuat beberapa pakaian (yang sebenarnya sudah dibungkus tas kresek) menjadi basah, ada lagi dua sleeping bag yang basah, headlamp yang mati, dan lain-lain lagi.
Kami lalu memutar otak mencari alternatif dari setiap masalah yang ada, lalu akhirnya kami menitipkan tas kami di shelter pos 3, bapak penjaga warung shelter tersebut berbaik hati menerima. Untuk pakaian yang basah, untungnya masih ada sisa-sisa pakaian kering yang ada, aman. Dua sleeping bag yang basah akhirnya membuat kami harus berbagi sleeping bag tiap dua orang (karena kami membawa 4). Dan headlamp yang basah diganti oleh cahaya syahabat, eh maksudnya flash handphone. Setelah semua masalah selesai, ya walaupun disertai sedikit omelan dari para wanita, akhirnya kami kembali ke niat awal, menikmati perjalanan.
Malam itu kami habiskan untuk memasak, bercerita, hingga berbagi canda, seakan semua beban perjalanan tadi terlupakan, terganti oleh rasa syukur karena menemukan zona nyaman di tempat yang bisa dibilang 'tidak terlalu nyaman'. Kami akhirnya memutuskan untuk tidur dengan berbagi sleeping bag.
Paginya, kami terbangun oleh tetangga tenda yang sangat berisik, setdaah gatau orang pengen istirahat apa yak, dan karena itu, kami tak bisa tidur lagi. Paginya, kami memutuskan untuk tidak melakukan perjalanan menuju puncak, karena ada sebagian dari kami yang tidak bisa tidur semalaman, akhirnya sebagian dari kami memilih untuk tidur, dan sisanya bingung harus berbuat apa. Akhirnya kami memutuskan untuk memasak dan menikmati pagi gunung yang segarnya tak ada tandingan ini.
Tentang tidak muncak saat di gunung, apakah kami menyesal? Tentu saja tidak, karena dari tujuan awal, kami hanya ingin menikmati perjalanan, menikmati karunia yang Tuhan berikan pada orang-orang yang mau mencarinya dengan sedikit niat dan usaha.
Tentang tidak muncak saat di gunung, apakah kami menyesal? Tentu saja tidak, karena dari tujuan awal, kami hanya ingin menikmati perjalanan, menikmati karunia yang Tuhan berikan pada orang-orang yang mau mencarinya dengan sedikit niat dan usaha.
Kami bersyukur karena tak ada ego yang mendominasi pada perjalanan kami kali ini, perjalanan menikmati, perjalanan melawan diri sendiri, dalam keterbatasan, kami berusaha untuk saling melindungi. Terima kasih telah menemani, terima kasih telah memberi arti, terima kasih telah setia di sisi.
Sumbing, 3 Maret 2019


No comments:
Post a Comment