Merbabu, tentang Sebuah Temu


Siang sedang terik-teriknya, saat tiba-tiba muncul sebuah notif dari seorang teman perempuan yang sebenarnya tidak terlalu akrab, mengajak pergi ke gunung prau. Karena telah memiliki rencana ke gunung merbabu sebelumnya, aku menolak ajakannya tadi, namun aku memberi alternatif bagaimana jika ke merbabu saja? Dan ternyata gayung bersambut, akhirnya disepakati hari minggu tanggal 29 Juli 2018 kami menuju gunung merbabu via jalur pendakian Selo.

Teman perempuanku tadi berangkat dari Semarang, sedangkan aku dan teman-temanku yang terdiri dari 3 orang berangkat dari Wonogiri. Awalnya aku pikir nekat juga ya ni cewek, walaupun akhirnya dia mengajak teman perempuannya (temanku juga) untuk menemani, namun mereka terbilang nekat ikut mendaki bersamaku (yang belum akrab dengan mereka) dan teman-temanku yang tentu saja belum mereka kenal. 

Singkat cerita tibalah kami di basecamp gunung merbabu, Basecamp 'Pak Bari' namanya. Suasana canggung begitu terasa menyelimuti kami pada awal pertemuan ini, aku mencoba mencairkan suasana dengan menyuruh teman-temanku untuk saling berkenalan satu sama lain. Setelah dirasa cukup, sekitar pukul 1 siang kami memulai perjalanan.

Perjalanan awal diwarnai dengan joke-joke garing yang diharapkan dapat mencairkan suasana yang masih sedikit beku ini. Namun perlahan kami mulai membaur satu sama lain, perjalanan menuju pos 1 tak ada halangan yang berarti, begitupun pos 2 dan pos 3. Masalah muncul dari pos 3, karena aku sudah pernah mendaki gunung ini, aku tahu trek dari pos 3 menuju sabana 1 ini adalah salah satu trek terberat, namun di sini aku bersyukur kabut turun, jadi terjalnya jalur di atas sana tidak terlihat, karena jika jalur ini terlihat, akan dapat dengan mudah mematahkan semangat. Saat kami tiba di jalur ini, malam mulai berusaha melahap siang, headlamp terpasang sebagai satu-satunya sumber cahaya yang ada. Rasa lelah mulai merasuki, kesal juga mulai timbul karena merasa jalur yang ada tak kunjung habis, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak.

Saat kami beristirahat, tiba-tiba dari langit muncul sumber cahaya baru berwarna merah, indah. Ternyata sang dewi malam sedang merangkak naik dari ujung cakrawala, membawa terang bagi jiwa-jiwa yang digelapkan oleh gulita malam. Bulan terindah yang pernah kami lihat, sejenak suasana dingin yang menyelimuti tubuh kami berganti menjadi perasaan hangat yang dibawa oleh sang dewi malam. Rasa kesal dan lelah tadi tergantikan, semangat kami kembali. Kami lalu tiba di sabana 1 untuk mendirikan tenda, memasak, lalu tidur, tidur yang lumayan pulas walau dingin tak pernah berhenti menerpa.

Paginya, kami disambut oleh hangatnya mentari, yang menyadarkan kami pula bahwa puncak belum dijejaki. Kuakui, perjalanan menuju puncak adalah yang terberat, namun di sini, aku mulai merasakan, rasa  saling butuh, rasa di mana segala angkuh bisa luruh. Dan dari sini pula aku merasa, merbabu seperti menjadi magnet bagi kami untuk bertemu, sebagai perantara bisu, untuk orang-orang yang terjebak ragu.

Terima kasih, Merbabu.

Merbabu, 30 Juli 2018

No comments:

Post a Comment