Sempat terlintas di pikiran, mengapa terkadang dirimu lebih memilih bersama orang lain daripada bersamaku. Namun setelah ditelaah lagi, ternyata daripada orang-orang itu, aku lebih sering ada bersamamu, menghabiskan waktumu, menghempaskan porsi orang lain yang ingin bersamamu, karena berpikir bahwa dirimu hanya untukku. Setelah kupikir lagi, ternyata aku-lah yang mendapat lebih banyak waktumu, aku-lah yang mendapat lebih banyak raga-mu untuk kudekap, aku-lah yang sudah mendapat sepercik tempat di hatimu. Lantas mengapa aku masih risau akan semua kemungkinan buruk itu?
Entah, terkadang ego selalu menguasai sanubari. Lalu yang tersisa hanya kesan yang menunjukkan, mengapa kau lebih suka bersama dengan seseorang yang bukan aku? Aku sekarang tahu, aku cemburu. Aku cemburu saat melihatmu terlalu dekat dengan seseorang yang bukan aku, karena aku selalu berpikir, fisikmu adalah milikku. Dan jika hal itu terjadi, yang terasa hanya panas yang menguasai dada ini.
Namun timbul istilah lain, aku menamakannya cemburu hati. Jika yang di atas tadi ialah fisikmu yang terlalu dekat dengan orang, sampai membuat dada terbakar, lalu bagaimana dengan cemburu hati, yang kita tahu setelah ada seseorang yang menceritakan kepada kita jika ada orang lain di hatimu? Saat fisik selalu bersama, namun hati tidak, bukankah akan lebih menyakitkan? Saat kita bersama orang yang fisiknya selalu bersama kita namun hatinya tidak.
Bukankah lebih sakit apabila orang yang kita sayang menemukan telinga lain untuk berkeluh kesah? Bukankah lebih sakit apabila orang yang kita sayang menyimpan sesuatu yang tak pernah kita tahu sebelumnya? Bukankah lebih sakit apabila orang yang kita sayang meneteskan tangisnya kepada orang lain yang bukan kita? Sakit.
Di sini aku ingin bilang kepadamu, aku tidak suka bila wujud fisikmu terlalu dekat dengan orang lain, namun aku akan lebih mengutuk diriku sendiri apabila diam-diam kamu lebih dekat dengan orang lain yang tak pernah aku tahu sebelumnya, aku lebih senang kamu bercerita, walaupun memang akan ada sedikit lara di sana, namun di sini aku akan mulai berani menanamkan rasa percaya pada dirimu, seorang.
Aku takkan bisa membatasi fisikmu, karena aku tak pernah mau membuatmu terkekang olehku. Namun jika soal hati, mau tak mau harus aku ikat, dan kau tak boleh menolaknya😜 karena sesuatu tersebut adalah satu-satunya modal untuk kita bisa menginvestasikan rasa yang tumbuh. Akan ada naik turun, dan aku yakin itu. Dan yang kita punya hanyalah satu, rasa percaya. Jangan disia-siakan. Demi aku, demi kamu, demi kita.
Semarang, 11 Maret 2019
No comments:
Post a Comment