Tanpa aba-aba dan tanpa apa-apa, dirimu tiba-tiba memelukku erat. Karena sangat tiba-tiba, hening sejenak tercipta. Otakku masih mencerna ihwal apa yang sedang terjadi.
"Cape." katamu.
Tanpa aba-aba dan tanpa apa-apa, dirimu tiba-tiba memelukku erat. Karena sangat tiba-tiba, hening sejenak tercipta. Otakku masih mencerna ihwal apa yang sedang terjadi.
"Cape." katamu.
Sore itu sepulang kantor, Nira mengajakku untuk pergi mencari tempat makan di luar, supaya suara-suara dari dalam perut yang sudah mulai meronta tersumpal oleh butir-butir nasi yang terjun lewat kerongkongan. Seperti biasa, mencari makan adalah hal yang sederhana namun harus dibuat serumit mungkin.
Baru saja mobil yang aku tumpangi melewati salah satu pusat perbelanjaan yang ada di Kota Surakarta, Matahari Singosaren. Melihat itu, tiba-tiba ingatanku terlempar ke belasan tahun yang lalu. Saat aku masih duduk di bangku SD kelas lima atau enam, agak lupa persisnya. Dulu minimal sebulan sekali aku pasti mengunjungi tempat ini, menemani Bapak yang tiap bulannya pasti belanja berbagai spare part ponsel untuk keperluan pekerjaannya.
Saat di kerumunan, pernahkah kamu mencoba mendengarkan percakapan banyak orang dalam satu waktu sekaligus? Melelahkan bukan? Harus fokus ke satu dan yang lain, hingga akhirnya hanya menjadi distorsi telinga yang memuakkan.
Yesterday is history, tomorrow is a mistery, but today is a gift. That's why it's called the present. Adalah Kata-kata Master Oogway di film Kungfu Panda yang paling aku ingat.