Diam


Malam ini hujan turun dengan lebatnya, menggagalkan rencana dua orang manusia yang ingin menghabiskan malam di pusat kota yang terkenal cukup  padat. Tinggal lah mereka di beranda tempat indekos sang wanita, sembari menunggu hujan yang mungkin akan memakan waktu yang lumayan lama, mengingat tebalnya mega mendung di atas sana. Sebenarnya aku tidak suka dengan kalimat gagal, karena sesuatu yang tak diduga terkadang datang dari reaksi spontan otak saat mencari alternatif lain dari suatu kegagalan.

Tanda Tanya


Pernah tidak dirimu merasa terlalu marah dengan seseorang, lalu terisak. Bukan sebagai pelampiasan, namun tiba-tiba otak seperti mengingat kembali sebuah peristiwa yang orang tersebut pernah alami di masa lalunya, sehingga dirimu merasa seperti ciut sendiri, merasa tak berguna, hingga akhirnya berujung marah pada diri sendiri, mengapa diri ini begitu cengeng, seperti anak kecil yang merengek karena permen yang dimintanya tak mau diberikan oleh sang ibu.

Mawar


Tiap sunyi malam terlewati dengan tak pernah sekalipun aku absen menulis sesuatu tentangmu, bukan untuk ditunjukkan kepadamu secara langsung, apa daya aku yang hanya bisa melihatmu dari kejauhan, diri ini masih terlalu ciut untuk sekadar menatap sepasang mata yang bekilau itu.

The Fastund

Berangkat dari sesuatu yang asing, 71 orang yang entah secara sengaja ataupun tidak, dipertemukan dalam sebuah media pembelajaran di sebuah Universitas. The Fastund, begitu kami menyebutnya. The Family of Seventeen Undip, adalah sebuah keluarga yang dilatarbelakangi oleh orang-orang yang kembali lagi entah sengaja atau tidak memilih jurusan D3 Pertanahan di Universitas Diponegoro.

Look at Me














Aku tak bisa marah padamu, walau tak bisa dipungkiri pula, sering perasaan cemburu datang menghampiri, perasaan hati yang campur aduk karena bingung harus berbuat apa saat itu terjadi.

Rumah


Semakin bertambah usia, kategori untuk menemukan sesosok pasangan hidup kian berbeda. Di sini, aku berkata semakin bertambah usia, bukan semakin bertambah dewasa, mengapa? Ah, aku sendiripun tak tahu aku sudah bertambah dewasa atau belum, namun yang pasti usia ku selalu bertambah.

Lamunan Malam



Suasana kamar indekos malam ini sedang suntuk-suntuknya, aku memutuskan untuk keluar sekadar mencari udara segar. Setelah menghidupkan motor, aku lalu menarik gasnya dengan tujuan entah kemana, selama roda berputar di sanalah hati bersarang.

Sesuatu tentang Roda Dua


Waktu terbaik menghabiskan hari adalah di kala malam, saat sang surya telah dilahap gulita, di atas motor berdua.

Sore di Sebuah Gang Kecil


Satu kebiasaan yang sering kulakukan sebelum masuk rumah, menunggu punggungmu lenyap dari gang kecil tempat tinggalku berada. Walau jujur, aku benci tiap kali hal itu terjadi. Entah kenapa sebenarnya diriku tak ingin ragamu hilang ditelan jalanan, aku ingin ragamu di sisiku, selalu.

Seutas Cerita dari Sindoro

Karena merasa penat dengan kegiatan harian yang terkesan repetitif, aku dan 5 teman kuliah yang terdiri dari dua perempuan dan tiga laki-laki ingin melakukan pendakian ke Gunung Sindoro.

Renjana














Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri, yang tak bisa dipaksa oleh alasan yang tak konkret. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri, yang merdeka dari label-label cap romansa lama. Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri, yang tidak begitu saja mengikuti arus yang ada.

Belum Ada Judul


Terjebak dalam waktu yang menuntut jawaban dari sebuah kebimbangan, dipaksa menelan serat-serat pahit yang disebut takdir, memilih untuk menggores atau digores, logika atau rasa, insting atau akal.

Terima Kasih


Awalnya aku sempat meragukan seperti apa wujud kota yang akan kutuju ini, bisakah aku mengikuti arusnya, atau harus terbuang dari arus yang ada.

Ambisi Perusak Nurani


Ada rasa senang dan susah saat mendengar keputusannya untuk ikut. Senang karena ada suatu yang tak biasa, susah karena terlalu memikirkan kemungkinan terburuk yang selalu membayangi.

Salah


Rinai hujan menghiasi perjalanan kami pulang, jalanan di pegunungan ini hampir tak terlihat, tertutup kabut yang semakin menebal seiring dengan hari yang kian gelap, kurasakan ada sepasang tangan yang masuk di saku samping jaket jeans hitam yang tengah kugunakan, lalu perlahan memeluk pinggangku erat.

Gusar



Detak jam dinding semakin kencang seiring malam yang semakin larut, sunyi yang semakin memenuhi ruangan, dan pikiran yang tak mau berhenti menebak, sebenarnya apa yang dimaksud oleh tingkah lakumu itu?

Di Antara Kalian



Aku ingin menyampaikan opini yang kupunya tentang perempuan yang telah memiliki pasangan, entah itu yang sudah sah di mata hukum atau belum. Seorang teman perempuan yang telah memiliki pasangan masih sering menebar pesona lewat media sosial pribadinya, terutama instagram. Yang jadi pertanyaan adalah, apakah memang hal tersebut adalah sifat alami perempuan, atau memang sebenarnya itu adalah semacam kode bahwa ia kurang diperhatikan oleh pasangan?

Berdamai dengan Rezeki Orang


Pernahkah kamu iri melihat teman atau orang lain mendapat rezeki berlebih? Aku yakin pernah.

Secret Admirer



Beberapa hari ini, hanya terlihat satu bintang di langit. Satu-satunya benda langit yang bersinar menemani rembulan yang sedang purnama. Begitu setia, ia mendampingi bulan saat bintang lain pergi entah kemana.

Perbedaan



Aku pernah suka dengan seorang perempuan, ia adalah perempuan yang memenuhi semua checklist yang telah kubuat untuk menjadi standar dalam memilih pasangan hidup. Walaupun mungkin terlalu dini untuk mendekati, namun apa salahnya merawat seseorang yang kita sayangi walaupun tanpa ada timbal balik yang berarti?

Rapuh


Malam itu aku terpukul, sangat malu, aku yang sedari dulu bersama bahkan tidak mengetahui perasaan sahabat-ku sendiri yang memendam rasa kecewa dalam waktu yang cukup lama.

Rock in Indonesia


Tahun 2018 ini, Indonesia banyak dikejutkan oleh banyaknya band luar yang datang, mulai dari aliran rock sampai metal.

Puisi | Tentang Waktu


Sehelai petang mengantar riuh siang pada heningnya malam
Perbincangan hangat tercipta dari rintik rindu yang tersisa
Sebelum hari esok datang
Dimana waktu menjelma menjadi ombak yang menggerus usia
Izinkan aku untuk terus memotret indahnya nuansa
Untuk bekal hari tua
Yang mungkin hanya akan terasa sekejap mata



Rangga Heryan Kusuma
Wonogiri, 6 Juni 2018

Komitmen



Malam ini kembali ke perantauan, menggunakan motor yang menemani hari-hariku sejak SMA, membelah pulau jawa dari ujung selatan ke ujung utara. Karena jarak yang cukup jauh, berhenti sejenak untuk memulihkan tenaga akan sangat dibutuhkan, aku menepikan motor di sebuah warung yang ada di pinggir jalan, setelah membeli kopi hangat, aku lalu duduk-duduk sebentar di luar warung tempat membeli kopi tadi.

Gempa

Masih ingatkah saat tengah malam kita tidak sengaja terbangun bersama karena bumi bergoyang cukup keras, kamu di kamar rumahmu, aku di ruang tengah rumahku. Entah ada angin apa, aku tiba-tiba mencari ponsel untuk bisa segera menghubungimu, kamu yang ternyata juga baru bangun lalu diselimuti rasa panik, aku pun sama.
Tapi entah mengapa, mendengar suaramu di sana yang menandakan kamu sedang baik-baik saja membuatku juga menjadi lebih ayem. Setelah beberapa saat keadaan dinilai cukup stabil, kamu memutuskan untuk kembali tidur –lebih tepatnya ketiduran– sedangkan aku berkutat dengan mata yang tak kunjung mau terpejam, sial. Tak mau menyerah, aku lalu bangkit dari tempat tidur untuk mencari buku yang belum selesai aku baca di rak buku, berharap mata ini menyerah pada tulisan sang penulis di dalam buku itu, 15 menit berlalu dan aku sudah bermimpi terbang di antara bintang-bintang.


Rangga Heryan Kusuma
Wonogiri, 9 Mei 2018