Sendiri terkadang sesunyi itu, sesepi itu. Namun di lain sisi, ternyata ia juga punya arti, bagi orang-orang yang mau menggali.
Nelangsa
Malam ini, hujan membalas rasa rindunya pada tanah yang gersang. Hujan perdana, setelah kemarau dirasa sangat panjang. Tak terasa satu tahun berlalu, hujan perdana tahun lalu juga sempat aku abadikan ke dalam sebuah tulisan, sama seperti saat ini, hanya dengan rasa yang berbeda.
Secarik Kertas
Detik ini seseorang bisa tertawa lepas, beberapa menit berikutnya ia bisa berubah datar, marah, murka, lalu meneteskan air mata.
Pulang
Seutas malam perlahan melahap sang siang, lampu-lampu kota lalu menyala, berlomba-lomba membias petang menjadi terang. Deru knalpot dari motor yang mulai termakan usia itu terhenti, menyapa rumah yang telah lama tak disinggahi. Aku pulang.
Murka
Beberapa hal memang sengaja diciptakan agar kita berpikir, mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa hal tersebut menimpa diri kita sendiri? Sejenak umpatan-umpatan itu begitu gemas ingin dikeluarkan, namun ada sebuah tameng yang menahan, sepanas-panasnya sebuah keadaan, jangan pernah meragukan kekuatan otak untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Entah
Terlalu sadis untuk diikat, namun belum terlalu rela untuk membiarkannya terbang bebas seperti burung dara, walau aku tahu ia akan kembali disamping raga ini, selalu. Aku takut, bukan takut ia pergi, aku lebih takut ia dimanfaatkan atas kelengahannya di sebuah sisi pada raganya yang suci. Terlalu banyak yang masih acuh menjaga raga yang ia punya, raga yang lebih bernilai dari apapun. Ada lisan yang tak pernah lelah mengingatkan, namun terkadang, kesempatan selalu datang seiring dengan terbukanya peluang.
Gulana
Kau tahu, saat terkadang yang dibutuhkan hanyalah ingin sejenak merebah, ternyata pikiran yang sesak membuat semuanya menjadi tidak menyenangkan, namun ada sebuah obat yang hingga saat ini masih mujarab untuk meluruhkan. Mendengar suaramu di ujung sana, gelak candamu seolah meredam bisingnya prasangka.
Lupa Waktu
Berdua kita berjalan di bawah kerlip gemintang, dengan satu sumber cahaya dari sebuah senter yang usang. Tapak kaki kita bergantian menepuk jalan semen yang sedikit koyak termakan usia, disaksikan ratusan kembang kol di kiri dan kanan yang sedang berusaha menyapa.
(Part 3, End) Menyusun Asa
Keesokan harinya, kami bangun agak siang. Entah, malam itu tidur terasa sangat nyenyak. Kami bergegas keluar tenda untuk memasak, cacing di perut kami sudah bergemuruh seperti marching band yang sedang pentas di sebuah festival. Usai makan, kami packing ulang, merobohkan tenda lalu meringkas semuanya untuk dimasukkan kembali ke dalam tas. Setelah semua dikira sudah, kami melanjutkan perjalanan.
(Part 2) Tentang Sebuah Kompromi
Perjalanan dari basecamp ke pos satu sebenarnya didominasi oleh trek yang landai, namun jarak tempuhnya yang jauh membuat kami yang jalannya sangat santai ini memerlukan sekitar satu jam untuk sampai di pos 1 bayangan (pos sebelum pos 1). Kami istirahat sejenak di pos 1 bayangan, karena di pos 1 bayangan ini terdapat shelter yang meneduhkan hari yang cukup menyengat. Kami lalu membeli semangka yang segarnya tiada tara, sepotong semangka di gunung mungkin akan menjadi salah satu makanan favorit bagi saya nantinya.
(Part 1) Slamet dan Awal yang Rumit
Slamet, satu kata tersebut akhirnya terceletuk dari bibir seorang teman, karena sudah terlalu penat menghadapi semester 4 yang terlalu istimewa melibas hati dan pikiran kami, kiranya akan setimpal menyegarkan pikiran di gunung tertinggi se jawa tengah ini.
.
Sadarkah? Bagi beberapa orang, pancaran yang muncul dari dalam dadamu terlalu terang bagi mereka yang mulai bosan dengan gelap.
Samudra
Hari demi hari berlalu, bukannya semakin menguasai, ternyata aku belum sepenuhnya mengenalimu, entah karena aku yang terlalu acuh atau bagaimana, di tiap hari kita meramu, selalu tertanam pelajaran baru, yang membuatku semakin takut melewati itu.
Menunggu Pagi
Malam ini seperti biasa, terlalu sibuk menebak arah langkah dari sebuah lamunan yang sejenak hinggap di pikiran. Kantuk sejenak menyapa, namun otak tak mau berhenti menerka.
Tenggara
Wonogiri, sama seperti kebanyakan kota lainnya, musim kemarau didominasi oleh siang yang amat terik, juga malam yang cukup dingin. Kota kelahiran, kota tumbuh kembang, kota yang membentuk pribadi saya hingga hari ini. Banyak hal yang dapat dirindukan dari kota ini. Ramah tamahnya, damai tentramnya, juga kondisi alamnya yang terkesan masih asri, tanpa kontaminasi reklamasi.
Usah Khawatir, Aku Tetap di sini.
Beberapa hari belakangan, perasaan cemas terus tercipta, ihwal orang-orang baru yang perlahan masuk berusaha mencari afeksi, entah dari aku, atau dari dirimu sekalipun. Memang ada segelintir orang baru yang mungkin berniat mendekati, namun aku yakin kamu tahu bagaimana diriku ini.
Priceless
Malam itu detak arlojiku seperti berhenti bergerak, namun kemudian kembali berjalan mengikuti irama yang kami buat setelahnya. Entah kenapa tiba-tiba kami sama-sama merasa, bahwa memang inilah waktunya. Lagi-lagi malam menjadi media paling sederhana untuk dapat menerjemahkan rasa, walaupun memang bukan dengan kata-kata. Intuisi yang akhirnya mempunyai andil besar terhadap heningnya malam yang ada, lalu semua mengalir dengan sendirinya, mengikuti gerakan ranting pohon yang bergesekan membuat orkestra alami membelah heningnya malam.
2 a.m.
Sesuatu yang baru perdana dilakukan selalu menorehkan gita yang lebih tebal pada sebuah aksara yang tertulis rapi di kertas putih bernama kehidupan. Poin tadi ibarat tombol bold yang ditekan saat kita ingin melakukan penekanan pada sebuah kata yang akan dituliskan. Entah bagaimana, semesta akhirnya memutuskan menunjuk dirimu menekan tombol bold tersebut untuk pertama kalinya.
Masa-Masa
Beberapa hal terkadang begitu lucu untuk dikenang, tentang pertemuan yang tak sengaja, dan tentang perempuan yang tak pernah diduga sebelumnya. Entah, semua berjalan seperti ini adanya, kurasa waktu terlalu cepat melahap tubuhnya. Seperti baru kemarin kami saling bertegur sapa untuk pertama kalinya, kini jarak sedang berusaha menyapa, memaksa merenggangkan dua insan yang saling menggenggam. Namun tahukah apa yang istimewa dari semua ini? Gunung.
Ratap
Ada rasa tidak rela, saat senyum itu lebih terkembang oleh seseorang yang bukan aku. Aneh bukan? Bukankah seharusnya senang, melihatnya gembira sesaat setelah dirundung nestapa? Namun kenapa kali ini tidak?
The Big Eye
Pagi ini, bingung harus berbuat apa. Setelah salah satu dosen memberikan kabar bahwa kelasnya pagi ini kosong. Ada senang juga kesal. Senang karena mata kuliah pagi ini kosong, kesal karena kegiatan pagi ini juga ikut kosong, sialan. Alunan musik the adams menemani kosongnya pagi ini, ada salah satu lagunya berjudul 'Timur' mempunyai lirik yang terus terngiang-ngiang di telinga.
Something in Between
Sempat terlintas di pikiran, mengapa terkadang dirimu lebih memilih bersama orang lain daripada bersamaku. Namun setelah ditelaah lagi, ternyata daripada orang-orang itu, aku lebih sering ada bersamamu, menghabiskan waktumu, menghempaskan porsi orang lain yang ingin bersamamu, karena berpikir bahwa dirimu hanya untukku. Setelah kupikir lagi, ternyata aku-lah yang mendapat lebih banyak waktumu, aku-lah yang mendapat lebih banyak raga-mu untuk kudekap, aku-lah yang sudah mendapat sepercik tempat di hatimu. Lantas mengapa aku masih risau akan semua kemungkinan buruk itu?
Merbabu, tentang Sebuah Temu
Siang sedang terik-teriknya, saat tiba-tiba muncul sebuah notif dari seorang teman perempuan yang sebenarnya tidak terlalu akrab, mengajak pergi ke gunung prau. Karena telah memiliki rencana ke gunung merbabu sebelumnya, aku menolak ajakannya tadi, namun aku memberi alternatif bagaimana jika ke merbabu saja? Dan ternyata gayung bersambut, akhirnya disepakati hari minggu tanggal 29 Juli 2018 kami menuju gunung merbabu via jalur pendakian Selo.
Sumbing adalah tentang Menikmati
Bagi seseorang, gunung adalah pelarian untuk sejenak melupakan. Padahal sejauh-jauhnya dirimu berlari di dunia ini, kamu hanya akan kembali di titik awal dirimu memulai semua ini lagi.
People Change
Akan ada masa di mana orang-orang terdekatmu, entah itu teman, keluarga maupun pasangan, akan mengalami fase di mana ia akan berubah. Berubah dalam arti sifat, karena kalau berubah kostum, power rangers namanya. Hiyaa~ Yak maafkan itu tadi. Nah, pertanyaannya adalah siapkah kita mengikuti arus perubahan yang ada?
Jarak
Jarak. Satu kata yang mungkin menjadi momok bagi beberapa pasangan yang sedang dimabuk asmara, Long Distance Relationship (LDR) bahasa gaulnya. Ada yang dengan sabar berhasil menjalaninya, namun tak sedikit pula yang menyerah ditengah perjalanannya.
Posesif
Yang terasa hanya getir, saat dirimu mulai bercerita tentang suatu hal yang tak pernah ku suka. Yang ku bisa hanya diam, selagi menikmati obrolan yang mengalir riuh seperti aliran sungai saat musim hujan telah tiba. Yang tersisa hanya sesal, mengapa terlalu susah untuk menentang sesuatu yang tak pernah disuka.
Elang
Dirimu ibarat burung elang, yang memiliki pandangan seluas cakrawala, dengan gagah perkasa, terbang nan elok mengelilingi dunia.
Maaf
Kau tahu aku tak pernah mau menyakitimu, kau tahu betapa diri ini kumaki karena lidah yang tak sengaja mengecap kata yang membuat gendang telingamu perih, kau tahu betapa aku tak rela jika ada telinga lain yang menjadi pendengar barumu saat aku kau anggap sebagai pengacau harimu?
Pengendali Waktu
Hari-hari terlewati tanpa pernah sekali pun melewatkan biasmu di temaram lampu berandaku. Bagai dongeng sebelum tidur, kusaksikan kau bercerita tentang segala hal, tentang hari yang panjang, tentang luka lama yang kembali dibuka, atau tentang beberapa orang yang baru saja kau kenalkan —secara sepihak.
Masygul
Pada sore hari, saat gelas kopi tinggal setengah terisi, ada seseorang yang secara tak sengaja telah mengetuk pintu hati. Hati yang sedang sunyi dan tak berpenghuni.
Panda
"Panda.."
Ucap gadis itu sembari memeluk boneka beruang berbulu yang telah lama menjadi teman tidurnya itu. Gadis itu bernama Han.
Subscribe to:
Comments (Atom)
































